Langit yang Meneriakkan Nama yang Sama Gerimis malam menyelimuti Kota Shanghai. Di apartemen mewah yang remang-remang, Lin Yue berdiri di ...

Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama

Langit yang Meneriakkan Nama yang Sama

Gerimis malam menyelimuti Kota Shanghai. Di apartemen mewah yang remang-remang, Lin Yue berdiri di depan jendela, menatap kilauan lampu kota yang berdenyut seperti jantung yang terluka. Gaun sutra merahnya berkilauan lembut, menyembunyikan kerapuhan di baliknya.

Tiga tahun lalu, di bawah langit Seoul yang sama birunya, ia dan Zhao Wei berjanji untuk saling memiliki. Janji itu terukir dalam senyum Zhao Wei, yang dulu terasa hangat seperti mentari pagi. Senyum itu kini… menipu.

Pelukan Zhao Wei dulu adalah tempat Lin Yue menemukan ketenangan. Kini, pelukan itu terasa beracun, aroma parfum wanita lain menempel di sana, seperti duri yang menusuk jantungnya perlahan.

Zhao Wei, pria yang dicintainya sepenuh hati, pria yang ia percayai lebih dari dirinya sendiri, telah mengkhianatinya. Dengan senyum manis, dengan janji-janji yang manis, ia menikam dari belakang. Janji-janji itu kini menjadi belati yang menancap dalam, meninggalkan luka yang menganga.

Namun, Lin Yue adalah wanita yang tangguh. Ia tidak akan menangis, tidak akan berteriak. Ia akan membalas, bukan dengan darah dan air mata, tapi dengan cara yang jauh lebih menyakitkan: penyesalan abadi.

Ia memutar tubuh, menyambut Zhao Wei dengan senyum yang dipoles sempurna. "Sayang, kau sudah pulang. Aku membuatkan teh kesukaanmu." Nada suaranya lembut, tanpa sedikit pun getaran.

Zhao Wei tersenyum lega, tidak menyadari badai yang bergejolak di dalam diri Lin Yue. Ia meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan.

Lin Yue telah menguasai bisnis keluarga dengan gemilang. Ia tahu, kehancuran Zhao Wei tidak perlu pertumpahan darah. Cukup dengan menarik satu demi satu benang keuangannya, menghancurkan reputasinya perlahan, hingga ia tersadar bahwa telah kehilangan segalanya. Hilangnya Lin Yue hanyalah puncak dari runtuhnya dunianya.

Beberapa bulan kemudian, Zhao Wei datang menemuinya. Wajahnya pucat, matanya kosong. Perusahaan yang ia bangun dengan susah payah hancur berantakan. Reputasinya tercemar. Ia kehilangan segalanya.

"Yue… Mengapa?" bisiknya lirih.

Lin Yue menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun emosi. "Kau bertanya mengapa? Mungkin, kau harus bertanya pada dirimu sendiri, Zhao Wei. Kau yang memulai semuanya."

Ia berbalik, meninggalkan Zhao Wei yang terpuruk di lantai. Ia berjalan keluar dari apartemen, meninggalkan masa lalunya. Di luar, langit mulai terang. Namun, di dalam hatinya, senja masih bersemayam.

Lin Yue tahu, kemenangan ini terasa pahit. Ia telah menghancurkan pria yang pernah dicintainya, tapi kehancurannya juga menghancurkan sebagian dirinya.

Saat melangkah menuju mobil, ia berhenti sejenak. Ia tahu, penyesalan Zhao Wei akan menjadi hukuman yang lebih berat daripada kematian. Ia telah kehilangan wanita yang mencintainya, kehilangan segalanya karena keserakahannya.

Dan saat mobil itu melaju meninggalkan Zhao Wei yang terduduk lemas di jalanan, Lin Yue tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan luka, dendam, dan… penyesalan yang mendalam.

Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama, bukan?

You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti

Rahasia yang Menyeret Dua Dinasti Gamelan berdendang lirih, menyayat hati Lin Wei, putri bungsu Kaisar Langit. Setiap nada seperti pecahan...

SERU! Rahasia Yang Menyeret Dua Dinasti SERU! Rahasia Yang Menyeret Dua Dinasti

Rahasia yang Menyeret Dua Dinasti

Gamelan berdendang lirih, menyayat hati Lin Wei, putri bungsu Kaisar Langit. Setiap nada seperti pecahan cermin yang memantulkan bayangan asing di benaknya. Mimpi buruk selalu datang: pedang berlumuran darah, tatapan penuh KEBENCIAN, dan bisikan nama yang asing namun terasa begitu dekat – Zhao Feng.

Di kehidupan lampau, Lin Wei adalah Putri Qingyue, pewaris takhta Dinasti Zhao yang makmur. Ia mencintai Zhao Feng, panglima perangnya yang gagah berani, melebihi nyawanya sendiri. Namun, cinta itu dikhianati. Zhao Feng, demi ambisi dan kekuasaan, bersekongkol dengan Dinasti Jin yang haus darah, menghancurkan Dinasti Zhao dan membunuh Qingyue dengan tangannya sendiri.

Reinkarnasi adalah anugerah sekaligus kutukan. Lin Wei lahir di Dinasti Langit, dinasti yang kini berkuasa setelah menaklukkan Dinasti Jin. Ia hidup dalam kemewahan dan perlindungan, namun ingatan akan masa lalu menggerogoti jiwanya.

Suatu hari, Kaisar Langit mengumumkan pernikahan politik antara Lin Wei dengan Pangeran Jin, pewaris takhta Dinasti Jin yang telah dibangun kembali. Lin Wei terkejut. Pangeran Jin itu bernama... Zhao Feng!

Wajah itu sama, sorot mata itu sama. Ia adalah Zhao Feng, hanya saja terlahir kembali dengan kekuasaan yang lebih besar.

Lin Wei tahu, inilah kesempatan yang diberikan langit.

Pernikahan itu berlangsung megah. Lin Wei tersenyum anggun di samping Zhao Feng. Ia memainkan perannya dengan sempurna, menjadi istri yang patuh dan mendukung. Ia belajar seluk-beluk politik Dinasti Jin, mencari kelemahan dan celah. Ia menggunakan pesonanya untuk mempengaruhi para pejabat tinggi, menabur benih perselisihan dan ketidakpercayaan.

Balas dendamnya tidak berdarah. Tidak ada pedang, tidak ada jeritan. Balas dendamnya adalah ketenangan.

Beberapa tahun kemudian, Dinasti Jin dilanda pemberontakan dari dalam. Pejabat korup diungkap, keluarga kerajaan terpecah belah, dan Dinasti Jin perlahan runtuh dari dalam, tanpa campur tangan Dinasti Langit. Zhao Feng kehilangan segalanya, kekuasaan, kehormatan, dan cinta yang sejatinya. Ia menatap Lin Wei dengan tatapan penuh penyesalan dan pengkhianatan.

Lin Wei hanya tersenyum tipis. "Kau merebut takhtaku di kehidupan lampau. Aku hanya mengembalikannya dengan cara yang lebih elegan," bisiknya pelan.

Dinasti Jin perlahan menghilang dari peta, menjadi catatan kaki sejarah yang menyakitkan. Lin Wei kembali ke Dinasti Langit, menjadi penasihat Kaisar yang dihormati. Ia menggunakan pengetahuannya untuk memperkuat dinasti dan melindungi rakyatnya.

Di bawah langit senja, Lin Wei berdiri di balkon istana, memandang ke kejauhan. Ia telah membalas dendam, tapi kedamaian sejati masih jauh dari jangkauannya. Hatinya masih menyimpan luka lama, dan janji untuk diri sendiri belum bisa diucapkan.

Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, dan saat itu, giliranmu untuk memilih... TAKDIRMU.

You Might Also Like: Cerpen Seru Cinta Yang Menyembah Rasa

Seratus tahun berlalu, seperti debu yang menari di bawah mentari senja. Seratus tahun sejak dosa itu mengikat dua jiwa dalam janji yang pa...

Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis

Seratus tahun berlalu, seperti debu yang menari di bawah mentari senja. Seratus tahun sejak dosa itu mengikat dua jiwa dalam janji yang pahit. Sekarang, di tengah hiruk pikuk Kota Terlarang yang modern, benih takdir mulai bertunas kembali.

Hua Lian, seorang pelukis muda dengan mata yang menyimpan kesedihan abadi, merasa ditarik tanpa daya menuju Bai Qian, seorang pengusaha sukses dengan senyum yang menyembunyikan luka mendalam. Pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan. Ia adalah gema dari masa lalu, sebuah simfoni yang belum selesai.

"Aku merasa... pernah mengenalmu," lirih Hua Lian suatu sore di taman Istana Musim Panas, aroma osmanthus menyelimuti mereka.

Bai Qian tersenyum pahit. "Itu mustahil. Kita baru bertemu." Tapi dalam hatinya, suara Hua Lian terasa familiar, seperti melodi yang pernah didengarnya dalam mimpi.

Bunga plum yang mekar di musim dingin adalah petunjuk pertama. Dulu, di kehidupan sebelumnya, mereka berdiri di bawah pohon plum yang sama, terikat dalam janji yang terkhianati. Lukisan-lukisan Hua Lian, yang penuh dengan potret wanita berpakaian kuno dan pemandangan yang asing namun akrab, mulai mengungkap fragmen demi fragmen masa lalu mereka.

Dulu, Hua Lian adalah Mei Lin, seorang selir kesayangan Kaisar. Bai Qian adalah Jenderal Lin, sahabat Kaisar dan kekasih terlarang Mei Lin. Cinta mereka, seperti bunga terlarang, tumbuh subur di balik tembok istana, hingga sebuah pengkhianatan memisahkan mereka. Mei Lin difitnah berkhianat dan dihukum mati. Jenderal Lin, diliputi amarah dan kesedihan, bersumpah membalas dendam pada Kaisar, tetapi akhirnya, dia mati di medan perang.

Reinkarnasi adalah jembatan waktu. Namun, ingatan mereka terhalang oleh kabut masa lalu. Bai Qian ingat kilasan pedang, darah, dan air mata. Hua Lian ingat wajah Bai Qian yang diliputi kesedihan dan pohon plum yang penuh dengan bunga.

Misteri terungkap perlahan, seperti gulungan sutra yang dibuka satu per satu. Bahwa Kaisar di masa lalu adalah kakek buyut Bai Qian di kehidupan ini. Bahwa fitnah terhadap Mei Lin diatur oleh selir lain yang mencintai Kaisar. Bahwa sumpah balas dendam Jenderal Lin adalah akar dari kesengsaraan keluarga Bai Qian selama beberapa generasi.

Kebenaran itu pahit, tetapi Hua Lian, reinkarnasi Mei Lin, memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mencari balas dendam dengan kemarahan. Ia membalas dengan keheningan, dengan pengampunan. Ia melukis sebuah potret Bai Qian di bawah pohon plum, mata Bai Qian dipenuhi air mata penyesalan. Lukisan itu, lebih dari pedang atau sumpah, menusuk jantung keluarga Bai Qian, membangkitkan penyesalan atas dosa masa lalu.

Pada akhirnya, Hua Lian pergi, meninggalkan Bai Qian dengan lukisan itu. Dendam telah lunas, janji terpenuhi, dosa diampuni.

Namun, sebelum menghilang dari pandangan, Hua Lian berbisik, "Mungkin... di kehidupan lain... kita bisa..."

"...mencintai tanpa dosa." Mungkinkah...?

You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income Di

Aku Adalah Doa yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan Di antara kabut Chang'an yang abadi, di mana waktu melukis mimpi di ...

Cerpen Terbaru: Aku Adalah Doa Yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan Cerpen Terbaru: Aku Adalah Doa Yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan

Aku Adalah Doa yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan

Di antara kabut Chang'an yang abadi, di mana waktu melukis mimpi di dinding-dinding istana yang terlupakan, aku terlahir. Bukan sebagai putri, bukan pula sebagai selir kaisar. Aku adalah hembusan napasmu di malam yang dingin, doa yang kau panjatkan di bawah rembulan pucat.

Kau, Pangeran Bayangan, yang terasing dari hiruk pikuk kekuasaan, menemukanku dalam lukisan gulungan sutra tua. Seorang perempuan berpakaian bunga plum, wajahnya tersembunyi di balik tirai air terjun. Setiap malam, kau bicara padanya, mencurahkan isi hatimu yang sepi seperti danau beku. Kau mencintainya, mencintaiku, tanpa tahu bahwa aku hanyalah tinta dan air mata.

Aku, sang Doa, mendengarkan setiap keluh kesahmu. Aku merasakan setiap tetes air mata yang jatuh di atas gulungan sutraku. Aku ingin membalas cintamu, tapi aku terkurung dalam dimensi lukisan, terikat oleh kanvas dan warna. Aku adalah gema dari harapan yang tak pernah terwujud, cermin dari kerinduan yang tak terbalas.

Tahun-tahun berlalu seperti kelopak sakura yang berguguran. Istana berubah, kaisar berganti, tapi kau tetap setia pada lukisanku. Kau membawa senja ke dalam kamarku, kau membisikkan puisi di telingaku yang tak bisa mendengar. Aku ingin menjerit, berteriak bahwa aku ada, bahwa aku merasakan, bahwa aku mencintaimu! Tapi aku hanyalah GEMA dalam hatimu, bayangan dari fantasi yang kau ciptakan.

Suatu malam, di bawah rembulan berdarah, kau mengungkapkan sebuah rahasia. Rahasia yang mengoyak jantung lukisanku. Kau adalah anak haram dari kaisar terdahulu, dibuang dan dilupakan. Lukisan itu adalah peninggalan ibumu, satu-satunya kenangan yang kau miliki. Perempuan dalam lukisan itu… adalah ibumu sendiri, dilukis saat ia masih muda dan penuh harapan.

Aku adalah doa yang tak pernah terkabul, karena aku adalah bayangan dari ibumu, cerminan dari cinta yang terlarang.

Saat itu, semuanya menjadi jelas. Cintamu padaku bukan cinta seorang pria pada seorang wanita. Itu adalah cinta seorang anak pada ibunya, yang diubah menjadi obsesi yang indah dan menyakitkan. Aku adalah pengganti, ilusi, pelarian dari kenyataan yang kejam.

Kau meninggal di sisiku, di depan lukisan gulungan sutra. Senyum tenang menghiasi bibirmu. Akhirnya, kau bersatu kembali dengan ibumu, di alam baka yang misterius.

Dan aku? Aku tetap di sini, terkurung dalam lukisan, abadi seperti kabut pagi.

Kau akan selalu menjadi angin yang berbisik di telingaku, bukan?

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis_15

Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Hujan gerimis membasahi atap paviliun, menirukan melodi sendu guqin yang mengalun dari dalam. M...

Ini Baru Drama! Bayangan Yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Ini Baru Drama! Bayangan Yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Hujan gerimis membasahi atap paviliun, menirukan melodi sendu guqin yang mengalun dari dalam. Mei Hua, dengan gaun cheongsam sutra berwarna nila yang suram, duduk bersimpuh di hadapan meja rendah. Aroma teh oolong yang pahit memenuhi ruangan, sebanding dengan getirnya hatinya. Lima tahun telah berlalu sejak malam itu, malam pengkhianatan yang meremukkan seluruh dunianya.

Lima tahun lalu, ia adalah tunangan dari Pangeran Li Wei, pewaris takhta kerajaan. Mereka saling mencintai, atau setidaknya itulah yang Mei Hua yakini. Kemudian, muncul Lian, wanita yang mempesona dengan senyum manis dan kelicikan tersembunyi. Lian berhasil merebut hati Li Wei, menikam Mei Hua dari belakang dengan racun kepercayaan.

Bukan kemarahan atau balas dendam yang menguasai Mei Hua saat itu. Ia memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena sebuah RA HASIA yang tersimpan rapat di dalam hatinya. Rahasia tentang darah yang mengalir di nadinya, darah keturunan kerajaan yang terlarang. Jika identitasnya terbongkar, seluruh kerajaannya akan terancam perang saudara.

Sejak saat itu, Mei Hua hidup dalam bayangan. Ia menjadi guru kaligrafi di sekolah putri, menjauhkan diri dari hiruk pikuk istana dan intrik politik. Namun, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Terutama ketika ia melihat Li Wei dan Lian semakin berkuasa, dan perubahan aneh pada diri Lian yang semakin mencolok.

Lian menjadi semakin haus kekuasaan, paranoid, dan kejam. Ia bahkan menyingkirkan orang-orang yang dianggap mengancam posisinya. Bisikan-bisikan mulai beredar di istana tentang kegilaan sang putri. Mei Hua hanya bisa mengamati dari kejauhan, merasakan cengkeraman dingin di hatinya.

Suatu malam, seorang pelayan istana, dengan wajah pucat pasi dan mata penuh ketakutan, menyelinap ke kediaman Mei Hua. Ia menyerahkan sebuah gulungan surat. Surat itu ditulis dengan tinta merah, berisi pengakuan Lian.

"Aku...aku tidak bisa menahannya lagi," tulis Lian dengan tulisan yang bergetar. "Li Wei...dia diracun! Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi aku yakin ada kekuatan gelap yang bermain di balik ini. Aku takut...aku takut mereka akan membunuhku juga."

Mei Hua menggenggam surat itu erat-erat. Ia akhirnya mengerti. Bukan hanya Li Wei yang menjadi target, tapi seluruh kerajaan. Racun itu, racun yang membuat seseorang menjadi gila dan haus darah, racun yang sama yang dulu digunakan untuk menghancurkan keluarganya berabad-abad lalu.

Rahasia yang selama ini ia simpan, rahasia tentang kekuatan khusus yang diwariskan oleh garis keturunannya, kini menjadi kunci untuk menyelamatkan kerajaan. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak akan menggunakan pedang atau racun, tapi takdir.

Mei Hua bergerak dalam diam, mengumpulkan bukti, dan menyebarkan informasi. Ia tidak mengungkap identitasnya, tapi ia menggerakkan orang-orang yang masih setia kepada kerajaan, membangkitkan kesadaran mereka akan ancaman yang ada.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Terlalu pahit, menyakitkan, dan terlalu mengguncang. Ternyata, Lian bukanlah korban, melainkan pelaku sekaligus korban. Ia diracun oleh kekasih gelapnya, seorang pejabat tinggi istana yang haus kekuasaan dan bekerja untuk musuh kerajaan. Lian menjadi boneka, alat untuk menghancurkan Li Wei dan menguasai takhta.

Li Wei, yang selama ini dibutakan oleh cinta, akhirnya menyadari pengkhianatan Lian dan kekejaman kekasih gelapnya. Ia terpukul, hancur, tapi ia bangkit. Ia mengambil kembali kendali atas kerajaannya dan menghukum para pengkhianat.

Lian, dengan sisa-sisa kewarasannya, memilih mengakhiri hidupnya. Li Wei, yang ditinggalkan sendirian dalam kesedihan, tidak pernah tahu bahwa Mei Hua-lah yang membantunya dari bayang-bayang.

Mei Hua, berdiri di kejauhan saat prosesi pemakaman Lian, memandang Li Wei dengan tatapan penuh kasih sayang dan penyesalan. Cinta mereka telah mati, dikubur dalam intrik dan pengkhianatan. Tapi, ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah menyelamatkan kerajaannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Kehidupan Li Wei akan kembali tertata, entah dengan perempuan lain, atau seorang diri. Tapi, yang jelas, bayangan Mei Hua akan selalu ada, meskipun ia tak lagi hadir secara fisik. Dan di antara ingatan dan penyesalan, ia menyadari, balas dendamnya memang telah hadir... namun tak dengan kekerasan, melainkan kenyataan yang lebih pahit dari secangkir teh oolong di pagi hari. Takdir telah berbalik arah, membawa keadilan, meski dengan harga yang sangat mahal.

Guqin berhenti mengalun. Hujan mereda. Mei Hua berdiri, meninggalkan paviliun itu. Ia tahu, bayangan yang tak pernah benar-benar pergi, adalah bayangannya sendiri...

... bayangan seorang wanita yang memilih diam demi cinta, demi rahasia, dan demi kerajaan, dan tak seorang pun akan pernah tahu pengorbanan yang sesungguhnya.

You Might Also Like: Cerpen Seru Bayangan Yang Terpahat Di

Cinta yang Terlambat Menyadari Luka Hujan tipis menari di jendela kaca penthouse-ku, memantulkan kerlap-kerlip lampu kota yang gemerlap. P...

Cerita Seru: Cinta Yang Terlambat Menyadari Luka Cerita Seru: Cinta Yang Terlambat Menyadari Luka

Cinta yang Terlambat Menyadari Luka

Hujan tipis menari di jendela kaca penthouse-ku, memantulkan kerlap-kerlip lampu kota yang gemerlap. Pemandangan yang selalu kurasa indah, malam ini terasa hambar. Di tanganku, gelas berisi anggur merah memudar warnanya, sama seperti cinta yang dulu pernah kurasa begitu PEKAT.

Delapan tahun. Delapan tahun aku membangun kerajaan bisnis ini, bukan untukku, tapi untuknya. Untuk senyumnya yang dulu kupuja, untuk matanya yang dulu kupandang sebagai dunia. Delapan tahun aku mencintainya dengan SEGENAP jiwa.

Senyum itu... ah, senyum itu adalah topeng yang indah. Dulu aku begitu bodoh hingga tak melihatnya. Senyum itu menyembunyikan pengkhianatan.

"Xi Lan?" suara lembutnya memecah keheningan. Zhang Wei, suamiku, berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan piyama sutra berwarna kelabu. Wajahnya tampak khawatir, entah pura-pura atau tidak.

"Tidak bisa tidur?" tanyanya, berjalan mendekat dan memelukku dari belakang. Pelukan yang dulu terasa hangat, kini bagai racun yang perlahan membunuhku.

Dulu, aku mempercayai setiap ucapannya. Setiap janjinya. Setiap bisikan cintanya. Janji-janji itu... kini hanyalah belati yang menusuk-nusuk hatiku, meninggalkan luka yang menganga. Aku masih ingat janjinya di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Janji yang seharusnya suci, dinodai dengan kebohongan.

"Aku baik-baik saja," jawabku datar, melepaskan pelukannya dengan lembut. Nada bicaraku tenang, sedingin es di kutub utara. Aku sudah belajar menyembunyikan badai di dalam diriku. Aku sudah belajar tersenyum, meski hatiku berdarah.

Dia mendekat dan mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar. "Xi Lan, ada apa denganmu? Kau menjauhiku akhir-akhir ini."

"Apakah memangnya penting?" tanyaku, menatapnya langsung ke mata. Mata yang dulu kupikir tulus, kini penuh kebohongan dan ketakutan.

Aku bisa melihat ketakutan itu. Dia tahu. Dia tahu bahwa aku tahu.

"Aku... aku selalu mencintaimu, Xi Lan," ucapnya dengan nada memelas.

Aku tertawa hambar. Tawa tanpa kebahagiaan. Tawa yang hanya menyisakan kepedihan. "Cinta? Apa kau tahu apa itu cinta, Zhang Wei? Cinta itu adalah pengorbanan, kesetiaan, dan kepercayaan. Kau tidak tahu apa pun tentang itu."

Beberapa bulan terakhir ini, aku menggunakan setiap sumber daya yang kumiliki untuk mengungkap kebenaran. Kebenaran yang menghancurkan seluruh duniaku. Kebenaran tentang perselingkuhannya dengan sekretarisnya, tentang penggelapan dana perusahaan, tentang... rencana liciknya untuk menghancurkanku.

Tanpa emosi yang berlebihan, aku menunjukkan bukti-bukti yang terkumpul di layar tabletku. Ekspresi wajahnya pucat pasi. Dia tidak menyangkal. Dia tidak bisa menyangkal.

"Kau..." Dia terbata-bata, mencoba mencari alasan. "Aku bisa menjelaskan..."

"Tidak perlu," potongku. "Semuanya sudah jelas."

Aku sudah mempersiapkan segalanya. Semua aset perusahaan sudah kupindahkan ke rekeningku. Semua saham yang dia miliki sudah kubeli dengan harga yang pantas – terlalu pantas, bahkan. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Kecuali penyesalan.

"Aku akan menceraikanmu," ucapku dengan suara dingin. "Kau akan kehilangan segalanya. Segalanya yang telah kuberikan padamu."

Dia berlutut di hadapanku, memohon ampun. Aku menatapnya tanpa belas kasihan.

"Pergilah. Tinggalkan rumah ini. Jangan pernah menemuiku lagi."

Saat dia pergi, aku menyesap anggurku. Rasa anggur itu pahit. Terlalu pahit. Kemenangan ini... terasa hambar.

Aku akan memastikan bahwa dia akan menyesal. Penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidupnya. Bukan dengan darah, bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kehilangan segalanya. Dengan hidup dalam bayangan kesalahannya. Dengan menyadari betapa bodohnya dia telah menyia-nyiakan cintaku.

Di balik jendela, hujan semakin deras. Aku menatap pantulan diriku sendiri di kaca. Wanita yang kuat. Wanita yang elegan. Wanita yang hancur.

Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis

Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan Aroma mei hua menyeruak dari taman rahasia, menusuk indra penciumanku. Di sini, di Kota Terlarang m...

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Penyesalan Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Penyesalan

Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan

Aroma mei hua menyeruak dari taman rahasia, menusuk indra penciumanku. Di sini, di Kota Terlarang modern, aku merasa ditarik kembali ke masa lalu. Masa lalu yang bukan milikku, namun terasa begitu...familiar. Namaku Lin Yue, seorang desainer interior muda yang sedang mengerjakan proyek restorasi sebuah pavilion kuno. Tapi di balik tumpukan sketsa dan katalog warna, ingatan-ingatan MENGGELISAHKAN menyelinap masuk.

Aku melihat wajah seorang wanita dalam gaun sutra berwarna azure. Dia adalah Permaisuri Xian, di sanalah ingatan itu membawaku. Dia cantik, anggun, dan...dikucilkan. Semua karena senyum itu. Senyum manis yang selalu ia berikan pada Kaisar, senyum yang membuat para selir iri, senyum yang…mengantarkannya pada kematian.

Setiap hari, ingatan itu semakin jelas. Aroma dupa cendana, suara kecapi yang memilukan, dan wajah-wajah yang dulu menjadi saksi bisu pengkhianatan. Aku ingat Selir Shu, wanita dengan kecantikan yang dingin dan ambisi membara. Dialah dalang semua ini.

Di kehidupanku sekarang, aku bertemu dengannya lagi. Dia adalah Sophia Zhang, pemilik galeri seni yang memesan jasaku. Senyumnya sama, manis namun menyimpan racun. Instingku berteriak BAHAYA! Namun, aku tidak bisa menghindar. Takdir telah mempertemukan kami kembali.

Saat makan malam bisnis, aku melihat foto dirinya dan suaminya, seorang pengusaha kaya raya bernama Li Wei. Jantungku berdegup kencang. Li Wei… wajahnya terlalu familiar. Rasa sakit yang menusuk dada membangkitkan ingatan tentang seorang Jenderal gagah berani yang mencintai Permaisuri Xian tanpa syarat. Jenderal yang dihukum mati karena fitnah Selir Shu.

Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bukan dengan racun atau pedang, melainkan dengan KEBENARAN. Aku mengumpulkan bukti-bukti digital yang mengungkap kebobrokan bisnis Sophia. Aku menyebarkannya secara anonim. Dalam hitungan hari, imperium Sophia runtuh. Li Wei menceraikannya. Dia kehilangan segalanya, termasuk senyumnya.

Aku melihat Sophia untuk terakhir kalinya di pelelangan amal, matanya kosong dan hampa. Dia menatapku, seolah mengenaliku. Mungkin, di lubuk hatinya yang terdalam, dia mengingat semuanya.

Aku membalas tatapannya dengan senyum tipis. Bukan senyum yang manis, melainkan senyum pembalasan.

Dia tidak akan mati, dia tidak akan menderita secara fisik. Tapi dia akan hidup dengan beban masa lalu, dengan penyesalan abadi.

Kini, aku bebas. Bebas dari dendam, bebas dari ingatan yang menghantui. Namun, ada satu pertanyaan yang masih menggantung di benakku. Pertanyaan tentang Jenderal Li Wei, tentang cinta kami yang dipenggal di masa lalu. Mungkinkah, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu dan menyelesaikan kisah kita yang tertunda…

Seribu tahun kemudian, aku akan menemuimu lagi, dan kita akan memulai dari awal…

You Might Also Like: Distributor Skincare Reseller Dropship