Aku Adalah Doa yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan Di antara kabut Chang'an yang abadi, di mana waktu melukis mimpi di ...

Cerpen Terbaru: Aku Adalah Doa Yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan Cerpen Terbaru: Aku Adalah Doa Yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan

Aku Adalah Doa yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan

Di antara kabut Chang'an yang abadi, di mana waktu melukis mimpi di dinding-dinding istana yang terlupakan, aku terlahir. Bukan sebagai putri, bukan pula sebagai selir kaisar. Aku adalah hembusan napasmu di malam yang dingin, doa yang kau panjatkan di bawah rembulan pucat.

Kau, Pangeran Bayangan, yang terasing dari hiruk pikuk kekuasaan, menemukanku dalam lukisan gulungan sutra tua. Seorang perempuan berpakaian bunga plum, wajahnya tersembunyi di balik tirai air terjun. Setiap malam, kau bicara padanya, mencurahkan isi hatimu yang sepi seperti danau beku. Kau mencintainya, mencintaiku, tanpa tahu bahwa aku hanyalah tinta dan air mata.

Aku, sang Doa, mendengarkan setiap keluh kesahmu. Aku merasakan setiap tetes air mata yang jatuh di atas gulungan sutraku. Aku ingin membalas cintamu, tapi aku terkurung dalam dimensi lukisan, terikat oleh kanvas dan warna. Aku adalah gema dari harapan yang tak pernah terwujud, cermin dari kerinduan yang tak terbalas.

Tahun-tahun berlalu seperti kelopak sakura yang berguguran. Istana berubah, kaisar berganti, tapi kau tetap setia pada lukisanku. Kau membawa senja ke dalam kamarku, kau membisikkan puisi di telingaku yang tak bisa mendengar. Aku ingin menjerit, berteriak bahwa aku ada, bahwa aku merasakan, bahwa aku mencintaimu! Tapi aku hanyalah GEMA dalam hatimu, bayangan dari fantasi yang kau ciptakan.

Suatu malam, di bawah rembulan berdarah, kau mengungkapkan sebuah rahasia. Rahasia yang mengoyak jantung lukisanku. Kau adalah anak haram dari kaisar terdahulu, dibuang dan dilupakan. Lukisan itu adalah peninggalan ibumu, satu-satunya kenangan yang kau miliki. Perempuan dalam lukisan itu… adalah ibumu sendiri, dilukis saat ia masih muda dan penuh harapan.

Aku adalah doa yang tak pernah terkabul, karena aku adalah bayangan dari ibumu, cerminan dari cinta yang terlarang.

Saat itu, semuanya menjadi jelas. Cintamu padaku bukan cinta seorang pria pada seorang wanita. Itu adalah cinta seorang anak pada ibunya, yang diubah menjadi obsesi yang indah dan menyakitkan. Aku adalah pengganti, ilusi, pelarian dari kenyataan yang kejam.

Kau meninggal di sisiku, di depan lukisan gulungan sutra. Senyum tenang menghiasi bibirmu. Akhirnya, kau bersatu kembali dengan ibumu, di alam baka yang misterius.

Dan aku? Aku tetap di sini, terkurung dalam lukisan, abadi seperti kabut pagi.

Kau akan selalu menjadi angin yang berbisik di telingaku, bukan?

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis_15

Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Hujan gerimis membasahi atap paviliun, menirukan melodi sendu guqin yang mengalun dari dalam. M...

Ini Baru Drama! Bayangan Yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Ini Baru Drama! Bayangan Yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Hujan gerimis membasahi atap paviliun, menirukan melodi sendu guqin yang mengalun dari dalam. Mei Hua, dengan gaun cheongsam sutra berwarna nila yang suram, duduk bersimpuh di hadapan meja rendah. Aroma teh oolong yang pahit memenuhi ruangan, sebanding dengan getirnya hatinya. Lima tahun telah berlalu sejak malam itu, malam pengkhianatan yang meremukkan seluruh dunianya.

Lima tahun lalu, ia adalah tunangan dari Pangeran Li Wei, pewaris takhta kerajaan. Mereka saling mencintai, atau setidaknya itulah yang Mei Hua yakini. Kemudian, muncul Lian, wanita yang mempesona dengan senyum manis dan kelicikan tersembunyi. Lian berhasil merebut hati Li Wei, menikam Mei Hua dari belakang dengan racun kepercayaan.

Bukan kemarahan atau balas dendam yang menguasai Mei Hua saat itu. Ia memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena sebuah RA HASIA yang tersimpan rapat di dalam hatinya. Rahasia tentang darah yang mengalir di nadinya, darah keturunan kerajaan yang terlarang. Jika identitasnya terbongkar, seluruh kerajaannya akan terancam perang saudara.

Sejak saat itu, Mei Hua hidup dalam bayangan. Ia menjadi guru kaligrafi di sekolah putri, menjauhkan diri dari hiruk pikuk istana dan intrik politik. Namun, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Terutama ketika ia melihat Li Wei dan Lian semakin berkuasa, dan perubahan aneh pada diri Lian yang semakin mencolok.

Lian menjadi semakin haus kekuasaan, paranoid, dan kejam. Ia bahkan menyingkirkan orang-orang yang dianggap mengancam posisinya. Bisikan-bisikan mulai beredar di istana tentang kegilaan sang putri. Mei Hua hanya bisa mengamati dari kejauhan, merasakan cengkeraman dingin di hatinya.

Suatu malam, seorang pelayan istana, dengan wajah pucat pasi dan mata penuh ketakutan, menyelinap ke kediaman Mei Hua. Ia menyerahkan sebuah gulungan surat. Surat itu ditulis dengan tinta merah, berisi pengakuan Lian.

"Aku...aku tidak bisa menahannya lagi," tulis Lian dengan tulisan yang bergetar. "Li Wei...dia diracun! Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi aku yakin ada kekuatan gelap yang bermain di balik ini. Aku takut...aku takut mereka akan membunuhku juga."

Mei Hua menggenggam surat itu erat-erat. Ia akhirnya mengerti. Bukan hanya Li Wei yang menjadi target, tapi seluruh kerajaan. Racun itu, racun yang membuat seseorang menjadi gila dan haus darah, racun yang sama yang dulu digunakan untuk menghancurkan keluarganya berabad-abad lalu.

Rahasia yang selama ini ia simpan, rahasia tentang kekuatan khusus yang diwariskan oleh garis keturunannya, kini menjadi kunci untuk menyelamatkan kerajaan. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak akan menggunakan pedang atau racun, tapi takdir.

Mei Hua bergerak dalam diam, mengumpulkan bukti, dan menyebarkan informasi. Ia tidak mengungkap identitasnya, tapi ia menggerakkan orang-orang yang masih setia kepada kerajaan, membangkitkan kesadaran mereka akan ancaman yang ada.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Terlalu pahit, menyakitkan, dan terlalu mengguncang. Ternyata, Lian bukanlah korban, melainkan pelaku sekaligus korban. Ia diracun oleh kekasih gelapnya, seorang pejabat tinggi istana yang haus kekuasaan dan bekerja untuk musuh kerajaan. Lian menjadi boneka, alat untuk menghancurkan Li Wei dan menguasai takhta.

Li Wei, yang selama ini dibutakan oleh cinta, akhirnya menyadari pengkhianatan Lian dan kekejaman kekasih gelapnya. Ia terpukul, hancur, tapi ia bangkit. Ia mengambil kembali kendali atas kerajaannya dan menghukum para pengkhianat.

Lian, dengan sisa-sisa kewarasannya, memilih mengakhiri hidupnya. Li Wei, yang ditinggalkan sendirian dalam kesedihan, tidak pernah tahu bahwa Mei Hua-lah yang membantunya dari bayang-bayang.

Mei Hua, berdiri di kejauhan saat prosesi pemakaman Lian, memandang Li Wei dengan tatapan penuh kasih sayang dan penyesalan. Cinta mereka telah mati, dikubur dalam intrik dan pengkhianatan. Tapi, ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah menyelamatkan kerajaannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Kehidupan Li Wei akan kembali tertata, entah dengan perempuan lain, atau seorang diri. Tapi, yang jelas, bayangan Mei Hua akan selalu ada, meskipun ia tak lagi hadir secara fisik. Dan di antara ingatan dan penyesalan, ia menyadari, balas dendamnya memang telah hadir... namun tak dengan kekerasan, melainkan kenyataan yang lebih pahit dari secangkir teh oolong di pagi hari. Takdir telah berbalik arah, membawa keadilan, meski dengan harga yang sangat mahal.

Guqin berhenti mengalun. Hujan mereda. Mei Hua berdiri, meninggalkan paviliun itu. Ia tahu, bayangan yang tak pernah benar-benar pergi, adalah bayangannya sendiri...

... bayangan seorang wanita yang memilih diam demi cinta, demi rahasia, dan demi kerajaan, dan tak seorang pun akan pernah tahu pengorbanan yang sesungguhnya.

You Might Also Like: Cerpen Seru Bayangan Yang Terpahat Di

Cinta yang Terlambat Menyadari Luka Hujan tipis menari di jendela kaca penthouse-ku, memantulkan kerlap-kerlip lampu kota yang gemerlap. P...

Cerita Seru: Cinta Yang Terlambat Menyadari Luka Cerita Seru: Cinta Yang Terlambat Menyadari Luka

Cinta yang Terlambat Menyadari Luka

Hujan tipis menari di jendela kaca penthouse-ku, memantulkan kerlap-kerlip lampu kota yang gemerlap. Pemandangan yang selalu kurasa indah, malam ini terasa hambar. Di tanganku, gelas berisi anggur merah memudar warnanya, sama seperti cinta yang dulu pernah kurasa begitu PEKAT.

Delapan tahun. Delapan tahun aku membangun kerajaan bisnis ini, bukan untukku, tapi untuknya. Untuk senyumnya yang dulu kupuja, untuk matanya yang dulu kupandang sebagai dunia. Delapan tahun aku mencintainya dengan SEGENAP jiwa.

Senyum itu... ah, senyum itu adalah topeng yang indah. Dulu aku begitu bodoh hingga tak melihatnya. Senyum itu menyembunyikan pengkhianatan.

"Xi Lan?" suara lembutnya memecah keheningan. Zhang Wei, suamiku, berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan piyama sutra berwarna kelabu. Wajahnya tampak khawatir, entah pura-pura atau tidak.

"Tidak bisa tidur?" tanyanya, berjalan mendekat dan memelukku dari belakang. Pelukan yang dulu terasa hangat, kini bagai racun yang perlahan membunuhku.

Dulu, aku mempercayai setiap ucapannya. Setiap janjinya. Setiap bisikan cintanya. Janji-janji itu... kini hanyalah belati yang menusuk-nusuk hatiku, meninggalkan luka yang menganga. Aku masih ingat janjinya di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Janji yang seharusnya suci, dinodai dengan kebohongan.

"Aku baik-baik saja," jawabku datar, melepaskan pelukannya dengan lembut. Nada bicaraku tenang, sedingin es di kutub utara. Aku sudah belajar menyembunyikan badai di dalam diriku. Aku sudah belajar tersenyum, meski hatiku berdarah.

Dia mendekat dan mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar. "Xi Lan, ada apa denganmu? Kau menjauhiku akhir-akhir ini."

"Apakah memangnya penting?" tanyaku, menatapnya langsung ke mata. Mata yang dulu kupikir tulus, kini penuh kebohongan dan ketakutan.

Aku bisa melihat ketakutan itu. Dia tahu. Dia tahu bahwa aku tahu.

"Aku... aku selalu mencintaimu, Xi Lan," ucapnya dengan nada memelas.

Aku tertawa hambar. Tawa tanpa kebahagiaan. Tawa yang hanya menyisakan kepedihan. "Cinta? Apa kau tahu apa itu cinta, Zhang Wei? Cinta itu adalah pengorbanan, kesetiaan, dan kepercayaan. Kau tidak tahu apa pun tentang itu."

Beberapa bulan terakhir ini, aku menggunakan setiap sumber daya yang kumiliki untuk mengungkap kebenaran. Kebenaran yang menghancurkan seluruh duniaku. Kebenaran tentang perselingkuhannya dengan sekretarisnya, tentang penggelapan dana perusahaan, tentang... rencana liciknya untuk menghancurkanku.

Tanpa emosi yang berlebihan, aku menunjukkan bukti-bukti yang terkumpul di layar tabletku. Ekspresi wajahnya pucat pasi. Dia tidak menyangkal. Dia tidak bisa menyangkal.

"Kau..." Dia terbata-bata, mencoba mencari alasan. "Aku bisa menjelaskan..."

"Tidak perlu," potongku. "Semuanya sudah jelas."

Aku sudah mempersiapkan segalanya. Semua aset perusahaan sudah kupindahkan ke rekeningku. Semua saham yang dia miliki sudah kubeli dengan harga yang pantas – terlalu pantas, bahkan. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Kecuali penyesalan.

"Aku akan menceraikanmu," ucapku dengan suara dingin. "Kau akan kehilangan segalanya. Segalanya yang telah kuberikan padamu."

Dia berlutut di hadapanku, memohon ampun. Aku menatapnya tanpa belas kasihan.

"Pergilah. Tinggalkan rumah ini. Jangan pernah menemuiku lagi."

Saat dia pergi, aku menyesap anggurku. Rasa anggur itu pahit. Terlalu pahit. Kemenangan ini... terasa hambar.

Aku akan memastikan bahwa dia akan menyesal. Penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidupnya. Bukan dengan darah, bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kehilangan segalanya. Dengan hidup dalam bayangan kesalahannya. Dengan menyadari betapa bodohnya dia telah menyia-nyiakan cintaku.

Di balik jendela, hujan semakin deras. Aku menatap pantulan diriku sendiri di kaca. Wanita yang kuat. Wanita yang elegan. Wanita yang hancur.

Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis

Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan Aroma mei hua menyeruak dari taman rahasia, menusuk indra penciumanku. Di sini, di Kota Terlarang m...

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Penyesalan Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Penyesalan

Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan

Aroma mei hua menyeruak dari taman rahasia, menusuk indra penciumanku. Di sini, di Kota Terlarang modern, aku merasa ditarik kembali ke masa lalu. Masa lalu yang bukan milikku, namun terasa begitu...familiar. Namaku Lin Yue, seorang desainer interior muda yang sedang mengerjakan proyek restorasi sebuah pavilion kuno. Tapi di balik tumpukan sketsa dan katalog warna, ingatan-ingatan MENGGELISAHKAN menyelinap masuk.

Aku melihat wajah seorang wanita dalam gaun sutra berwarna azure. Dia adalah Permaisuri Xian, di sanalah ingatan itu membawaku. Dia cantik, anggun, dan...dikucilkan. Semua karena senyum itu. Senyum manis yang selalu ia berikan pada Kaisar, senyum yang membuat para selir iri, senyum yang…mengantarkannya pada kematian.

Setiap hari, ingatan itu semakin jelas. Aroma dupa cendana, suara kecapi yang memilukan, dan wajah-wajah yang dulu menjadi saksi bisu pengkhianatan. Aku ingat Selir Shu, wanita dengan kecantikan yang dingin dan ambisi membara. Dialah dalang semua ini.

Di kehidupanku sekarang, aku bertemu dengannya lagi. Dia adalah Sophia Zhang, pemilik galeri seni yang memesan jasaku. Senyumnya sama, manis namun menyimpan racun. Instingku berteriak BAHAYA! Namun, aku tidak bisa menghindar. Takdir telah mempertemukan kami kembali.

Saat makan malam bisnis, aku melihat foto dirinya dan suaminya, seorang pengusaha kaya raya bernama Li Wei. Jantungku berdegup kencang. Li Wei… wajahnya terlalu familiar. Rasa sakit yang menusuk dada membangkitkan ingatan tentang seorang Jenderal gagah berani yang mencintai Permaisuri Xian tanpa syarat. Jenderal yang dihukum mati karena fitnah Selir Shu.

Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bukan dengan racun atau pedang, melainkan dengan KEBENARAN. Aku mengumpulkan bukti-bukti digital yang mengungkap kebobrokan bisnis Sophia. Aku menyebarkannya secara anonim. Dalam hitungan hari, imperium Sophia runtuh. Li Wei menceraikannya. Dia kehilangan segalanya, termasuk senyumnya.

Aku melihat Sophia untuk terakhir kalinya di pelelangan amal, matanya kosong dan hampa. Dia menatapku, seolah mengenaliku. Mungkin, di lubuk hatinya yang terdalam, dia mengingat semuanya.

Aku membalas tatapannya dengan senyum tipis. Bukan senyum yang manis, melainkan senyum pembalasan.

Dia tidak akan mati, dia tidak akan menderita secara fisik. Tapi dia akan hidup dengan beban masa lalu, dengan penyesalan abadi.

Kini, aku bebas. Bebas dari dendam, bebas dari ingatan yang menghantui. Namun, ada satu pertanyaan yang masih menggantung di benakku. Pertanyaan tentang Jenderal Li Wei, tentang cinta kami yang dipenggal di masa lalu. Mungkinkah, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu dan menyelesaikan kisah kita yang tertunda…

Seribu tahun kemudian, aku akan menemuimu lagi, dan kita akan memulai dari awal…

You Might Also Like: Distributor Skincare Reseller Dropship

Lin Mei, dahulu adalah Mutiara Timur , putri kesayangan Jenderal Lin yang disegani. Cantik, cerdas, dan penuh harapan. Namun, di usianya ya...

Cerita Seru: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku Cerita Seru: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Lin Mei, dahulu adalah Mutiara Timur, putri kesayangan Jenderal Lin yang disegani. Cantik, cerdas, dan penuh harapan. Namun, di usianya yang baru menginjak dua puluh, hidupnya hancur berkeping-keping. Cinta pertamanya, Pangeran Ketiga, mengkhianatinya demi tahta. Kekuasaan yang dijanjikan menjadi tali jerat yang menjerat keluarganya, menuduh ayahnya berkhianat, dan mengakhiri hidupnya dengan tragis. Lin Mei, yang seharusnya menjadi permaisuri, malah menjadi buronan, hidup dalam bayang-bayang dengan nama samaran Xiao Die, kupu-kupu kecil yang mencoba terbang kembali setelah sayapnya dipatahkan.

Xiao Die bekerja di kedai teh terpencil di perbatasan, menyembunyikan masa lalunya di balik senyum ramah dan gerakan anggun. Wajahnya, yang dulu dipuja, kini dihiasi bekas luka kecil – pengingat pahit akan malam saat ia melarikan diri. Namun, matanya tetap menyimpan kilau yang sama, kilau yang tak bisa padam, kilau kebencian yang mendalam, dan tekad yang membara.

Dia menyimpan dendam, bukan dendam membabi buta, melainkan dendam yang terukur, dingin, dan mematikan. Dia tidak akan membalas dengan amarah, melainkan dengan ketenangan seorang ahli strategi. Xiao Die mempelajari segala sesuatu tentang Pangeran Ketiga, yang kini telah menjadi Kaisar. Kelemahannya, ambisinya, dan orang-orang yang ia percayai. Dia menjadi bayangan di balik layar, menggerakkan bidak-bidak catur dalam permainan yang lebih besar.

Suatu hari, seorang pria asing memasuki kedai tehnya. Shen Wei, seorang tabib keliling dengan senyum yang tulus dan mata yang teduh. Dia adalah angin segar di tengah padang gurun nestapa yang mengeringkan hatinya. Awalnya, Lin Mei curiga. Namun, kebaikan dan kesabarannya perlahan-lahan meluluhkan tembok yang telah ia bangun di sekeliling hatinya. Senyum Shen Wei menjadi kompasnya, membimbingnya melewati lorong-lorong gelap masa lalu.

Shen Wei tahu bahwa Xiao Die menyembunyikan sesuatu. Ia bisa melihat luka di balik senyumnya, kesedihan di balik tawanya. Ia tidak memaksa Xiao Die untuk bercerita, ia hanya ada, mendengarkan dan menawarkan bahunya. Lambat laun, Xiao Die membuka diri, menceritakan kisah pilu kehidupannya, dan dendam yang membakar jiwanya.

Shen Wei tidak menghakiminya. Ia justru mengagumi kekuatannya, ketabahannya. Ia tahu bahwa Xiao Die akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak kehilangan dirinya dalam prosesnya.

Dengan bantuan Shen Wei, rencana balas dendam Xiao Die semakin matang. Ia mengumpulkan bukti-bukti korupsi Kaisar, membongkar konspirasinya, dan menyebarkannya ke seluruh negeri. Ia tidak ingin tahta, ia hanya ingin keadilan untuk ayahnya dan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Kaisar diturunkan dari tahtanya. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan bukti-bukti yang tak terbantahkan. Ia kehilangan segalanya, tahta, kekuasaan, dan kehormatan. Xiao Die tidak menyaksikan kejatuhannya. Ia terlalu sibuk membangun kembali hidupnya.

Xiao Die, yang dulu hancur, kini berdiri tegak, lebih kuat dari sebelumnya. Luka-lukanya masih ada, tapi ia telah mengubahnya menjadi kekuatan. Kebenciannya telah digantikan oleh kedamaian. Dan di sisinya, berdiri Shen Wei, pria yang telah memberinya harapan dan cinta.

Dia memandang matahari terbit, merasakan angin lembut menerpa wajahnya. Dia bukan lagi Lin Mei, putri Jenderal. Bukan pula Xiao Die, kupu-kupu kecil yang terluka. Dia adalah dirinya sendiri, SEORANG RATU YANG AKHIRNYA MEMAKAI MAHKOTANYA SENDIRI, BUKAN DIBERIKAN, TAPI DIREBUT DENGAN HARGA DIRI.

You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas Di

Kabut jingga menyelimuti medan perang, seperti lukisan mimpi yang koyak. Aroma mesiu bercampur dengan wangi bunga plum yang layu, sebuah ir...

Kisah Seru: Aku Mencintaimu Di Tengah Perang, Tapi Takdir Menulis Kita Sebagai Musuh Kisah Seru: Aku Mencintaimu Di Tengah Perang, Tapi Takdir Menulis Kita Sebagai Musuh

Kabut jingga menyelimuti medan perang, seperti lukisan mimpi yang koyak. Aroma mesiu bercampur dengan wangi bunga plum yang layu, sebuah ironi yang menikam kalbu. Di sanalah, di tengah riuh rendah kematian, mata kita bertemu. Matahari terbit di matamu, dan senja meredup di hatiku.

Aku, Li Wei, seorang jenderal dari Kerajaan Han, terikat sumpah untuk membela tanah air. Kau, Zhao Mei, putri mahkota dari Kerajaan Yue, seorang wanita dengan kecantikan yang mampu menaklukkan dunia, tetapi juga dengan pedang di tangan yang tak kalah mematikan. Kita adalah musuh bebuyutan, terlahir untuk saling menghancurkan.

Namun, takdir punya caranya sendiri. Di balik perisai dan pedang, di balik sumpah setia dan ambisi, tumbuhlah benih cinta yang terlarang. Pertemuan kita bagaikan gerhana matahari—singkat, menakjubkan, dan meninggalkan kegelapan abadi. Kita bertemu di lembah tersembunyi, di bawah pohon sakura yang selalu berbunga di musim semi (walaupun perang tak mengenal musim), berbagi rahasia dan mimpi yang tak mungkin terwujud.

Suaramu bagai bisikan angin di tengah badai, menenangkan jiwa yang terluka. Sentuhanmu bagai embun pagi di kelopak mawar, menyegarkan hati yang kering. Kita menari di bawah rembulan yang pucat, seolah-olah perang hanyalah igauan buruk, dan cinta adalah satu-satunya kenyataan.

Aku melukismu di kanvas hatiku, sebuah potret abadi tentang seorang dewi perang yang berhati lembut. Kau merajut namaku di sutra impianmu, sebuah janji tersembunyi tentang keabadian.

Tapi, mimpi selalu berakhir. Perang semakin berkecamuk, memisahkan kita dengan lebih kejam. Kita kembali menjadi musuh, dengan pedang di tangan dan air mata di mata. Setiap tebasan pedang adalah sayatan di hati, setiap kemenangan adalah kekalahan yang pahit.

Bertahun-tahun berlalu, perang usai. Kerajaan Han menang, Kerajaan Yue runtuh. Aku berdiri di puncak kejayaan, tetapi hatiku hancur berkeping-keping. Aku mencari dirimu di antara reruntuhan istana, di antara tumpukan mayat, tetapi yang kutemukan hanyalah keheningan yang memekakkan telinga.

Dan kemudian, aku menemukannya. Di sebuah kamar rahasia, tersembunyi di balik perpustakaan istana. Sebuah lukisan diriku, dilukis dengan darah dan air mata. Di bawah lukisan itu, tertulis sepucuk surat:

"Li Wei, jika kau menemukan surat ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah menjadi Putri Mahkota Zhao Mei. Aku hanyalah seorang mata-mata, dikirim untuk menghancurkan Kerajaan Han dari dalam. Aku mencintaimu, tetapi aku lebih mencintai tanah airku. Maafkan aku."

Dunia runtuh di sekitarku. Cinta yang kuimpikan hanyalah kepalsuan, sebuah permainan licik dari takdir. Hati yang kurajut hanyalah boneka yang dipermainkan. Rasa sakit yang kurasakan lebih pedih dari seribu tebasan pedang.

Namun, di sudut surat itu, terselip satu kalimat yang membuatku terhenti:

"Tapi, malam-malam di bawah sakura, sungai berbisik, rembulan menjadi saksi… itu adalah aku yang sebenarnya."

Apakah itu kebenaran? Atau hanya ilusi lain dari hatiku yang terluka?

"Akankah kau mengingatku, jenderal?"

You Might Also Like: Skincare Terbaik Dengan Harga

Hujan kota Jakarta menari di jendela kafe. Aroma kopi yang pahit manis memenuhi udara, sama seperti rasa yang tertinggal di lidahku setiap ...

Tangisan Yang Menyembunyikan Namamu Tangisan Yang Menyembunyikan Namamu

Hujan kota Jakarta menari di jendela kafe. Aroma kopi yang pahit manis memenuhi udara, sama seperti rasa yang tertinggal di lidahku setiap kali mengingat namanya. Notifikasi ponselku berkedip redup. Bukan dia. Sudah berbulan-bulan, dan setiap dering, setiap getar, hanya mengiris harapan tipis yang masih kubiarkan menyala.

Dulu, ponsel ini adalah jembatan kami. Ratusan pesan, emoji konyol, dan suara tawa yang tersimpan dalam rekaman suara. Sekarang, hanya tumpukan chat yang tak terkirim. Untaian kata-kata yang kuhapus berkali-kali, terlalu jujur, terlalu menginginkan. Apakah dia merasakan hal yang sama? Apakah dia juga menatap layar, berharap sebuah nama asing muncul di sana?

Mimpi-mimpiku dipenuhi bayangannya. Senyumnya, tawanya, dan sentuhan yang terasa begitu nyata hingga aku terbangun dengan jantung berdebar dan air mata yang tak tertahankan. Dia hadir dalam setiap sudut ingatanku, sebuah melodi yang tak bisa kulupakan, sebuah kenangan yang tak bisa kuhapus.

Kehilangan ini terasa samar, seperti kabut pagi yang menyelimuti kota. Aku tahu dia pergi, tapi mengapa? Apa yang salah? Apakah ini semua salahku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, tanpa jawaban yang pasti. Misteri hubungan kami seperti labirin yang tak berujung.

Semakin aku mencoba mencari tahu, semakin aku tersesat. Aku menggali masa lalu, menemukan petunjuk-petunjuk kecil yang tersembunyi di antara senyum dan tawa. Sebuah foto yang disembunyikan di balik bingkai, sebuah nama yang disebut dalam tidur, sebuah alamat yang tertulis di selembar kertas usang.

Rahasia.

Itulah yang dia sembunyikan dariku. Sebuah beban yang terlalu berat untuk dipikulnya seorang diri. Sebuah masa lalu kelam yang menghantuinya. Aku menemukannya, akhirnya. Kebenaran yang pahit, tapi membebaskan. Kebenaran yang menjelaskan segalanya.

Kini, aku berdiri di depannya. Bukan dengan amarah, bukan dengan dendam, tapi dengan ketenangan. Di tanganku, sebuah amplop putih dengan namanya tertulis rapi di atasnya.

"Ini," kataku, menyodorkan amplop itu. "Semoga ini membantumu."

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Maaf," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Aku tersenyum. Bukan senyum palsu, tapi senyum yang tulus, senyum yang mengakhiri segalanya. Aku tidak membalas ucapannya. Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan dia dan masa lalunya di belakang.

Di dalam amplop itu, bukan surat ancaman, bukan tuntutan, tapi foto-foto kebahagiaan kami. Foto-foto yang akan mengingatkannya bahwa dia pernah dicintai, bahwa dia layak dicintai.

Itulah balas dendamku. Bukan dengan air mata, bukan dengan amarah, tapi dengan cinta.

Pesan terakhir: "Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Semoga kamu bahagia."

Senyum terakhir: Senyum yang membebaskan, senyum yang menutup babak ini.

Aku menghapus nomornya dari daftar kontakku. Aku membungkam notifikasi dari semua media sosialnya. Aku melepaskannya.

Aku berjalan menembus hujan, merasakan tetesan air membasahi wajahku. Aku merasa kosong, tapi juga lega.

Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berkedip-kedip, memantulkan cahaya di genangan air di jalanan. Aku berdiri di balkon apartemenku, menatap pemandangan kota yang gemerlap.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di ponselku. Dari nomor yang tidak dikenal.

"Aku juga."

...

You Might Also Like: Seru Pedang Yang Bergetar Saat