Tangisan yang Menjadi Nafasku
Lantai marmer Istana Chang'an memantulkan cahaya rembulan, namun tidak mampu menandingi dingin yang menusuk tulang Xia Wei. Dulu, di tempat ini, ia adalah Permaisuri yang dicintai, bertahta di sisi Kaisar yang menjanjikan langit dan bintang. Sekarang, ia hanyalah debu, terinjak-injak oleh intrik dan kekuasaan.
Cinta yang pernah bersemi di hatinya, kini menjadi LUKA yang menganga. Kaisar Li, yang dulu memujanya, telah mengkhianatinya demi tahta dan aliansi politik yang lebih menguntungkan. Tuduhan palsu dilontarkan, reputasinya dihancurkan, dan keluarganya dibantai. Xia Wei, yang lembut bagai sutra, dipaksa menyaksikan neraka duniawi.
Namun, di tengah kehancuran, sebatang tunas harapan mulai tumbuh. Ia menemukan dirinya di sebuah biara terpencil, diasingkan, dan dilupakan. Di sana, ia belajar bukan hanya tentang kitab suci, tetapi juga tentang KETABAHAN. Ia merawat luka-lukanya, membiarkan air mata menjadi pupuk bagi kekuatan barunya. Setiap tetes air mata adalah mantra yang menguatkan, mengubah rasa sakit menjadi ketenangan yang menakutkan.
Wajahnya, dulu cerah dan penuh senyum, kini menyimpan rahasia kelam. Mata hijaunya, yang dulunya memancarkan kelembutan, sekarang MEMANCARKAN tekad yang membara. Xia Wei mempelajari seni bela diri, merangkai strategi, dan mengasah kecerdasan. Ia berbaur dengan para pedagang, membangun jaringan informasi, dan mengumpulkan sekutu.
Ia tidak mencari balas dendam dengan teriakan atau amarah. Balas dendamnya adalah simfoni yang dimainkan dengan KESABARAN dan KEHALUSAN. Ia memanipulasi bidak-bidak di papan catur kehidupan, memanfaatkan kelemahan musuhnya, dan meruntuhkan kerajaan mereka dari dalam. Kaisar Li, yang merasa aman dalam kekuasaannya, tidak menyadari bahwa takdirnya sedang diukir oleh tangan seorang wanita yang pernah ia sakiti.
Setiap kemenangan kecil adalah bunga yang tumbuh di medan perang hatinya. Ia tidak bersukacita dalam penderitaan orang lain, tetapi ia MENIKMATI keadilan yang ditegakkan. Ia tidak menjadi monster, tetapi ia menjadi versi dirinya yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih MEMATIKAN.
Pada akhirnya, Kaisar Li berlutut di hadapannya, memohon ampunan. Xia Wei menatapnya dengan mata dingin, tanpa sedikit pun keraguan. Ia telah merebut kembali segalanya yang telah direnggut darinya, bukan dengan darah dan api, tetapi dengan ketenangan dan ketepatan. Kekuasaan, kehormatan, dan keadilan, semuanya telah kembali ke tangannya.
Xia Wei, yang dulu hanyalah tangisan, kini adalah NAFAS KEHIDUPAN bagi kerajaannya. Ia meninggalkan Istana, mengenakan jubah sederhana, dan berjalan menuju masa depan yang tidak lagi dikendalikan oleh masa lalu.
Dan saat matahari terbit di cakrawala, ia tahu bahwa mahkota sesungguhnya tidak terbuat dari emas dan permata, tetapi dari keteguhan jiwa yang tak terkalahkan.
You Might Also Like: Dracin Terbaru Aku Adalah Error Yang
0 Comments: