Kau Menatapku dari Balik Tirai Waktu, dan Aku Membalasnya dengan Air Mata Malam itu kelam. Bukan sekadar gelap, tapi pekat, mencekik, sepe...

SERU! Kau Menatapku Dari Balik Tirai Waktu, Dan Aku Membalasnya Dengan Air Mata SERU! Kau Menatapku Dari Balik Tirai Waktu, Dan Aku Membalasnya Dengan Air Mata

SERU! Kau Menatapku Dari Balik Tirai Waktu, Dan Aku Membalasnya Dengan Air Mata

SERU! Kau Menatapku Dari Balik Tirai Waktu, Dan Aku Membalasnya Dengan Air Mata

Kau Menatapku dari Balik Tirai Waktu, dan Aku Membalasnya dengan Air Mata

Malam itu kelam. Bukan sekadar gelap, tapi pekat, mencekik, seperti rahasia yang terlalu lama dipendam. Istana kekaisaran bagai peti mati raksasa, setiap sudutnya menyimpan bisikan dendam dan jejak cinta yang dikhianati. Salju turun tanpa henti, mewarnai halaman putih bersih, namun di beberapa tempat, merahnya darah menyalakannya, bagai bunga iblis yang mekar di musim dingin.

Di paviliun terpencil, Lady Mei, wanita yang dulu dikenal dengan senyum memikatnya, kini berdiri tegak, punggungnya bagai busur yang siap melesatkan anak panah. Gaun sutra birunya berkelebat pelan, menari mengikuti angin dingin yang menusuk tulang. Di tangannya tergenggam erat bilah perak yang memantulkan cahaya rembulan yang pucat. Matanya, dua danau es yang menyimpan badai, tertuju pada sosok yang perlahan muncul dari balik pilar.

Kaisar Xuan, penguasa yang dulu dicintainya sepenuh jiwa, kini berdiri di hadapannya, wajahnya dipenuhi guratan penyesalan yang terlambat. Dupa cendana yang membakar di altar di antara mereka menebarkan aroma pahit, bercampur dengan bau darah dan air mata yang menggenang di hati Lady Mei.

"Mei… Maafkan aku," bisiknya, suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah deru angin.

Lady Mei tertawa sinis, tawa yang kering dan hampa, seperti dedaunan yang gugur di musim gugur. "Maaf? Apa kata itu bisa mengembalikan Ayahku? Ibuku? KEHORMATANKU?"

Kaisar Xuan terdiam. Rahasia lama, rahasia yang dikubur dalam-dalam di balik tahta dan kekuasaan, kini terungkap. Lady Mei, ternyata adalah putri dari Jenderal Zhao, pahlawan perang yang difitnah dan dieksekusi atas perintah Kaisar Xuan sendiri. Fitnah itu dilakukan untuk melenyapkan ancaman bagi tahtanya.

"Aku… aku terpaksa," ujarnya, mencoba membela diri. "Aku dijebak. Aku…"

"Cukup!" Lady Mei mengangkat tangannya, menghentikan alibinya. "Janji di atas abu. Itulah yang kau berikan padaku. Kau bersumpah akan menjagaku, melindungi keluargaku. Kau malah membunuh mereka, satu per satu, dan membuatku mencintai algojoku!"

Air mata akhirnya mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Bukan air mata penyesalan, tapi air mata amarah dan dendam yang membara.

"Kau menatapku dari balik tirai waktu, Kaisar. Kau mengira aku akan melupakan semuanya. Tapi tidak. Aku membalasnya dengan air mata… dan kematianmu."

Dengan gerakan secepat kilat, Lady Mei menghunuskan pedangnya. Tidak ada teriakan, tidak ada perlawanan. Hanya desiran angin dan suara pedang yang menembus daging. Kaisar Xuan jatuh berlutut, darah membasahi salju di sekitarnya. Matanya menatap Lady Mei dengan tatapan kosong, penuh keheranan dan penyesalan.

Lady Mei berlutut di hadapan mayat Kaisar Xuan, tangannya berlumuran darah. Hatinya terasa hampa, namun ada sedikit kepuasan yang merayap masuk. Balas dendam telah ditunaikan.

"Sudah berakhir," bisiknya, suaranya serak.

Namun, di kejauhan, bayangan hitam mengintai, menunggu giliran untuk mengungkap rahasia yang lebih gelap. Lady Mei tidak tahu, bahwa dendamnya baru saja membuka pintu bagi kengerian yang tak terbayangkan…

Bisikan arwah Jenderal Zhao masih bergentayangan di istana, menuntut lebih banyak darah.

You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original

0 Comments: