Hujan. Tak henti-hentinya membasahi pusara batu marmer yang dingin. Setetes demi setetes jatuh, bagai air mata langit yang tak mampu mereda...

Bikin Penasaran: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu Bikin Penasaran: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu

Bikin Penasaran: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu

Bikin Penasaran: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu

Hujan. Tak henti-hentinya membasahi pusara batu marmer yang dingin. Setetes demi setetes jatuh, bagai air mata langit yang tak mampu meredakan kesedihan abadi. Di balik rintik yang menari-nari, sosok bayangan berdiri, membeku dalam kebisuan. Arwah Lin Mei, yang berpulang tanpa sempat mengucapkan kebenaran.

Dunia arwah adalah keheningan abadi. Setiap detik terasa bagai abad, setiap langkah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam lorong waktu yang tak berujung. Lin Mei kembali bukan untuk menyapa mentari pagi, bukan pula untuk merasakan hangatnya dekapan sang ibu. Ia kembali untuk sebuah tugas yang belum selesai.

Dulu, sebelum malam kelam itu merenggut nyawanya, Lin Mei menyimpan rahasia. Sebuah pengakuan yang terpendam, janji yang tak terucap, dan cinta yang tak tersampaikan. Rahasia itu, seperti duri berkarat, menusuk-nusuk hatinya bahkan setelah ia tak lagi bernyawa.

Setiap malam, ia mengembara di antara dunia nyata dan dunia arwah, mencari jejak masa lalu. Bayangannya memanjang di dinding-dinding rumah tua, menolak pergi, seolah terikat oleh rantai penyesalan abadi. Ia melihat adiknya, Xiao Chen, yang kini hidup dalam kesepian. Ia melihat kekasihnya, Li Wei, yang menyulam senyum palsu di wajahnya.

Hatinya pilu. Ia ingin memeluk mereka, menenangkan jiwa mereka yang terluka. Namun, ia hanyalah bayangan tak berwujud, bisikan angin yang tak mampu didengar.

Lin Mei mencari buku harian lamanya, berharap di sana ia menemukan jalan keluar. Kata demi kata ia telusuri, air mata arwahnya jatuh membasahi lembaran yang menguning. Di sana, tersimpan rahasia terdalamnya – bukan tentang dendam, bukan tentang amarah, melainkan tentang kerinduan yang tulus.

Akhirnya, ia menemukan surat yang tak sempat ia kirimkan. Surat itu berisi pengakuan cinta untuk Li Wei, dan permohonan maaf untuk Xiao Chen. Ia menyadari, apa yang selama ini ia cari bukanlah pembalasan, melainkan kedamaian. Kedamaian untuk dirinya sendiri, dan kedamaian untuk orang-orang yang ia tinggalkan.

Dengan sisa tenaga arwahnya, ia membisikkan kata-kata terakhir ke telinga Li Wei yang tertidur. Kata-kata yang akhirnya membuka mata Li Wei terhadap kebenaran. Li Wei menemukan surat itu, dan air matanya tumpah membasahi pipi. Ia mengerti, Lin Mei selalu mencintainya.

Xiao Chen, yang selama ini menyimpan dendam, akhirnya menemukan kedamaian setelah membaca surat Lin Mei. Ia menyadari, kakaknya tidak pernah bermaksud menyakitinya. Yang ada hanyalah cinta dan pengorbanan.

Lin Mei melihat mereka berdua berpelukan, air mata mereka menjadi saksi bisu akan kebebasan abadi. Bebas dari belenggu masa lalu, bebas dari penyesalan, dan bebas dari rindu palsu.

Tugasnya selesai. Ia kini bisa pergi dengan tenang. Ia menoleh ke arah pusaranya, merasakan dinginnya batu marmer itu untuk terakhir kalinya.

Seolah arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya...

You Might Also Like: Agen Kosmetik Bimbingan Bisnis Online

0 Comments: