Pelukan yang Membungkam Segalanya Di sebuah negeri yang diselimuti kabut abadi , di antara bunga persik yang mekar seribu tahun, berdirila...

SERU! Pelukan Yang Membungkam Segalanya SERU! Pelukan Yang Membungkam Segalanya

SERU! Pelukan Yang Membungkam Segalanya

SERU! Pelukan Yang Membungkam Segalanya

Pelukan yang Membungkam Segalanya

Di sebuah negeri yang diselimuti kabut abadi, di antara bunga persik yang mekar seribu tahun, berdirilah Paviliun Bulan Purnama. Di sanalah, sang Putri Mimpi, Lan Yue, menanti. Bukan seorang pangeran berkuda putih, melainkan bayangan dirinya sendiri yang menjelma seorang pemuda bernama Jing Wei.

Jing Wei, bagai lukisan kabut pagi, muncul dari balik tabir sutra yang berbisik. Matanya, danau yang menyimpan kenangan terlarang, menatap Lan Yue dengan kerinduan yang membakar. Pertemuan mereka, bukanlah takdir, melainkan gema dari kehidupan yang terlupakan, dimensi waktu yang berputar bagai kincir ria tanpa henti.

Setiap malam, di bawah rembulan yang terbelah dua, mereka berdansa di atas kelopak bunga yang berjatuhan. Kata-kata yang terucap, bukan sekadar kalimat, melainkan syair hati yang terajut dari benang-benang mimpi. Sentuhan mereka, bagai belaian angin pada daun teh di musim semi, begitu lembut, begitu rapuh.

"Kau adalah pantulan diriku, Lan Yue," bisik Jing Wei suatu malam, suaranya sehalus gemericik air di sungai batu. "Hanya di dalam mimpi inilah kita bisa BERSAMA."

Lan Yue, dengan air mata yang berkilauan bagai bintang jatuh, menjawab, "Lalu, apa yang akan terjadi saat mentari menyingsing? Apakah kau akan kembali menjadi bayang-bayang, Jing Wei?"

Waktu berlalu, bagai sungai yang mengalir menuju lautan tak bertepi. Cinta mereka semakin dalam, semakin memabukkan, hingga melampaui batas antara kenyataan dan ilusi. Namun, kebahagiaan sejati selalu dibayangi oleh takdir yang kejam.

Suatu malam, di puncak Paviliun Bulan Purnama, Jing Wei mengungkapkan RAHASIA TERPENDAM. "Aku bukanlah bayanganmu, Lan Yue. Aku adalah roh seorang jenderal perang yang terperangkap di dalam lukisan ini, dihukum karena mencintai seorang putri dari dinasti musuh."

Lan Yue terhenyak. Lukisan yang selama ini dianggap sebagai penghias dinding, ternyata adalah penjara abadi bagi kekasihnya. Kenyataan ini, bagai pedang yang menancap tepat di jantungnya. Cinta mereka, TERLARANG!

Jing Wei memeluk Lan Yue erat, pelukan yang membungkam segalanya. Di saat itu, mereka tahu, kebahagiaan mereka hanya akan berumur seumur mimpi. Saat mentari menyingsing, Jing Wei akan kembali menjadi bagian dari lukisan, dan Lan Yue akan kembali menjadi Putri Mimpi yang kesepian.

Saat fajar menyingsing, Jing Wei memudar. Hanya tersisa bisikan lirih di telinga Lan Yue...

"Ingatlah aku, di setiap mimpi yang kau ciptakan…"

You Might Also Like: 0895403292432 Beli Skincare Terbaik

0 Comments: