Seratus tahun berlalu, seperti debu yang menari di bawah mentari senja. Seratus tahun sejak dosa itu mengikat dua jiwa dalam janji yang pa...

Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis

Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis

Drama Baru! Air Mata Yang Membentuk Bayang Iblis

Seratus tahun berlalu, seperti debu yang menari di bawah mentari senja. Seratus tahun sejak dosa itu mengikat dua jiwa dalam janji yang pahit. Sekarang, di tengah hiruk pikuk Kota Terlarang yang modern, benih takdir mulai bertunas kembali.

Hua Lian, seorang pelukis muda dengan mata yang menyimpan kesedihan abadi, merasa ditarik tanpa daya menuju Bai Qian, seorang pengusaha sukses dengan senyum yang menyembunyikan luka mendalam. Pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan. Ia adalah gema dari masa lalu, sebuah simfoni yang belum selesai.

"Aku merasa... pernah mengenalmu," lirih Hua Lian suatu sore di taman Istana Musim Panas, aroma osmanthus menyelimuti mereka.

Bai Qian tersenyum pahit. "Itu mustahil. Kita baru bertemu." Tapi dalam hatinya, suara Hua Lian terasa familiar, seperti melodi yang pernah didengarnya dalam mimpi.

Bunga plum yang mekar di musim dingin adalah petunjuk pertama. Dulu, di kehidupan sebelumnya, mereka berdiri di bawah pohon plum yang sama, terikat dalam janji yang terkhianati. Lukisan-lukisan Hua Lian, yang penuh dengan potret wanita berpakaian kuno dan pemandangan yang asing namun akrab, mulai mengungkap fragmen demi fragmen masa lalu mereka.

Dulu, Hua Lian adalah Mei Lin, seorang selir kesayangan Kaisar. Bai Qian adalah Jenderal Lin, sahabat Kaisar dan kekasih terlarang Mei Lin. Cinta mereka, seperti bunga terlarang, tumbuh subur di balik tembok istana, hingga sebuah pengkhianatan memisahkan mereka. Mei Lin difitnah berkhianat dan dihukum mati. Jenderal Lin, diliputi amarah dan kesedihan, bersumpah membalas dendam pada Kaisar, tetapi akhirnya, dia mati di medan perang.

Reinkarnasi adalah jembatan waktu. Namun, ingatan mereka terhalang oleh kabut masa lalu. Bai Qian ingat kilasan pedang, darah, dan air mata. Hua Lian ingat wajah Bai Qian yang diliputi kesedihan dan pohon plum yang penuh dengan bunga.

Misteri terungkap perlahan, seperti gulungan sutra yang dibuka satu per satu. Bahwa Kaisar di masa lalu adalah kakek buyut Bai Qian di kehidupan ini. Bahwa fitnah terhadap Mei Lin diatur oleh selir lain yang mencintai Kaisar. Bahwa sumpah balas dendam Jenderal Lin adalah akar dari kesengsaraan keluarga Bai Qian selama beberapa generasi.

Kebenaran itu pahit, tetapi Hua Lian, reinkarnasi Mei Lin, memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mencari balas dendam dengan kemarahan. Ia membalas dengan keheningan, dengan pengampunan. Ia melukis sebuah potret Bai Qian di bawah pohon plum, mata Bai Qian dipenuhi air mata penyesalan. Lukisan itu, lebih dari pedang atau sumpah, menusuk jantung keluarga Bai Qian, membangkitkan penyesalan atas dosa masa lalu.

Pada akhirnya, Hua Lian pergi, meninggalkan Bai Qian dengan lukisan itu. Dendam telah lunas, janji terpenuhi, dosa diampuni.

Namun, sebelum menghilang dari pandangan, Hua Lian berbisik, "Mungkin... di kehidupan lain... kita bisa..."

"...mencintai tanpa dosa." Mungkinkah...?

You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income Di

0 Comments: