Langit yang Meneriakkan Nama yang Sama Gerimis malam menyelimuti Kota Shanghai. Di apartemen mewah yang remang-remang, Lin Yue berdiri di ...

Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama

Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama

Drama Populer: Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama

Langit yang Meneriakkan Nama yang Sama

Gerimis malam menyelimuti Kota Shanghai. Di apartemen mewah yang remang-remang, Lin Yue berdiri di depan jendela, menatap kilauan lampu kota yang berdenyut seperti jantung yang terluka. Gaun sutra merahnya berkilauan lembut, menyembunyikan kerapuhan di baliknya.

Tiga tahun lalu, di bawah langit Seoul yang sama birunya, ia dan Zhao Wei berjanji untuk saling memiliki. Janji itu terukir dalam senyum Zhao Wei, yang dulu terasa hangat seperti mentari pagi. Senyum itu kini… menipu.

Pelukan Zhao Wei dulu adalah tempat Lin Yue menemukan ketenangan. Kini, pelukan itu terasa beracun, aroma parfum wanita lain menempel di sana, seperti duri yang menusuk jantungnya perlahan.

Zhao Wei, pria yang dicintainya sepenuh hati, pria yang ia percayai lebih dari dirinya sendiri, telah mengkhianatinya. Dengan senyum manis, dengan janji-janji yang manis, ia menikam dari belakang. Janji-janji itu kini menjadi belati yang menancap dalam, meninggalkan luka yang menganga.

Namun, Lin Yue adalah wanita yang tangguh. Ia tidak akan menangis, tidak akan berteriak. Ia akan membalas, bukan dengan darah dan air mata, tapi dengan cara yang jauh lebih menyakitkan: penyesalan abadi.

Ia memutar tubuh, menyambut Zhao Wei dengan senyum yang dipoles sempurna. "Sayang, kau sudah pulang. Aku membuatkan teh kesukaanmu." Nada suaranya lembut, tanpa sedikit pun getaran.

Zhao Wei tersenyum lega, tidak menyadari badai yang bergejolak di dalam diri Lin Yue. Ia meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan.

Lin Yue telah menguasai bisnis keluarga dengan gemilang. Ia tahu, kehancuran Zhao Wei tidak perlu pertumpahan darah. Cukup dengan menarik satu demi satu benang keuangannya, menghancurkan reputasinya perlahan, hingga ia tersadar bahwa telah kehilangan segalanya. Hilangnya Lin Yue hanyalah puncak dari runtuhnya dunianya.

Beberapa bulan kemudian, Zhao Wei datang menemuinya. Wajahnya pucat, matanya kosong. Perusahaan yang ia bangun dengan susah payah hancur berantakan. Reputasinya tercemar. Ia kehilangan segalanya.

"Yue… Mengapa?" bisiknya lirih.

Lin Yue menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun emosi. "Kau bertanya mengapa? Mungkin, kau harus bertanya pada dirimu sendiri, Zhao Wei. Kau yang memulai semuanya."

Ia berbalik, meninggalkan Zhao Wei yang terpuruk di lantai. Ia berjalan keluar dari apartemen, meninggalkan masa lalunya. Di luar, langit mulai terang. Namun, di dalam hatinya, senja masih bersemayam.

Lin Yue tahu, kemenangan ini terasa pahit. Ia telah menghancurkan pria yang pernah dicintainya, tapi kehancurannya juga menghancurkan sebagian dirinya.

Saat melangkah menuju mobil, ia berhenti sejenak. Ia tahu, penyesalan Zhao Wei akan menjadi hukuman yang lebih berat daripada kematian. Ia telah kehilangan wanita yang mencintainya, kehilangan segalanya karena keserakahannya.

Dan saat mobil itu melaju meninggalkan Zhao Wei yang terduduk lemas di jalanan, Lin Yue tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan luka, dendam, dan… penyesalan yang mendalam.

Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama, bukan?

You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti

0 Comments: