Baiklah, inilah kisah Dracin penuh nuansa takdir yang Anda inginkan, berjudul 'Kau Menyalakan Lilin di Altar, dan Nyalanya Membentuk Wajahku': **Kau Menyalakan Lilin di Altar, dan Nyalanya Membentuk Wajahku** Di tengah hingar bingar kota Shanghai modern, Lin Mei, seorang perangkai bunga yang memiliki aura ketenangan abadi, merasakan debaran aneh setiap kali melewati kuil tua di sudut jalan. Kuil itu, yang terlupakan oleh waktu, menariknya dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan. Di sana, ia selalu menemukan dirinya menyalakan lilin di altar yang dipenuhi debu. Suatu malam, saat nyala lilin menari-nari, Lin Mei terkejut. Bayangan di dinding perlahan membentuk wajah seorang pria. Wajah itu… *TERASA BEGITU FAMILIAR*, namun ia tak pernah melihatnya sebelumnya. Di tempat lain, di pedesaan terpencil yang diliputi kabut, Xiao Jian, seorang pelukis kaligrafi dengan mata seteduh danau, selalu dihantui mimpi yang sama: seorang wanita anggun dengan gaun sutra merah, berdiri di tengah ladang bunga *plum* yang sedang bermekaran. Ia selalu terbangun dengan air mata mengalir di pipinya, merasakan kehilangan yang mendalam. Suatu hari, sebuah undangan membawanya ke Shanghai. Ia ditugaskan untuk melukis mural di sebuah galeri seni. Tanpa disadarinya, galeri itu terletak tepat di seberang kuil tempat Lin Mei sering berkunjung. Takdir, seperti benang merah yang tak terlihat, mulai merajut jalinan takdir mereka. Pertemuan pertama mereka terjadi secara kebetulan di bawah guyuran hujan. Mata mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Xiao Jian merasakan jantungnya berdebar kencang, seolah mengenali Lin Mei dari *KEABADIAN*. Lin Mei, di sisi lain, merasakan sentakan energi yang membuatnya terhuyung. "Maaf," gumam Xiao Jian, suaranya lembut seperti angin. Namun, bagi Lin Mei, suara itu bergema seperti lonceng yang berdentang dari masa lalu. Sejak hari itu, mereka mulai bertemu secara teratur. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam bersama, berbicara tentang segala hal – mimpi, harapan, ketakutan. Semakin mereka mengenal satu sama lain, semakin kuat pula perasaan *DEJA VU* yang mereka rasakan. Bunga plum yang bermekaran di taman, aroma dupa di kuil, bahkan nada suara satu sama lain, semuanya membangkitkan kenangan yang bukan milik mereka. Melalui mimpi dan penglihatan, fragmen masa lalu mulai terungkap. Seratus tahun lalu, mereka adalah sepasang kekasih: seorang putri dari dinasti yang runtuh dan seorang jenderal muda yang berani. Cinta mereka terlarang, diwarnai intrik politik dan pengkhianatan. Akhirnya, mereka dikhianati oleh sahabat terdekat mereka, yang cemburu pada cinta mereka dan berambisi merebut takhta. Dalam momen-momen terakhir mereka, sang putri dan jenderal bersumpah untuk bertemu kembali di kehidupan selanjutnya. Namun, sebelum meninggal, sang jenderal membuat janji berdarah: ia akan membalas dendam pada pengkhianat itu. Kebencian itu, sayangnya, mengikat jiwa mereka dan menghalangi mereka untuk menemukan kedamaian. Kebenaran pahit akhirnya terungkap. Sahabat pengkhianat itu, melalui serangkaian reinkarnasi, telah menjadi seorang tokoh berpengaruh di dunia bisnis Shanghai. Ia adalah orang yang mendanai galeri tempat Xiao Jian bekerja. Xiao Jian, yang dipenuhi amarah dan hasrat untuk membalas dendam, berniat untuk menghancurkan pria itu. Namun, Lin Mei mengingatkannya akan janji mereka untuk *MELEPASKAN* kebencian. "Balas dendam tidak akan membawa kita kedamaian," bisik Lin Mei, air mata mengalir di pipinya. "Biarkan dia hidup dengan penyesalannya. Biarkan kita fokus pada cinta kita." Xiao Jian akhirnya mengerti. Ia membalas dendam bukan dengan kekerasan, tetapi dengan keheningan yang menusuk. Ia tidak mengekspos masa lalu pria itu, ia tidak mencoba menghancurkannya. Ia hanya memilih untuk *MENGAMPUNI*. Dengan pengampunan itu, ikatan masa lalu putus. Jiwa mereka akhirnya bebas. Pada malam terakhir mereka di Shanghai, mereka kembali ke kuil tua. Lin Mei menyalakan lilin terakhir di altar. Nyala lilin itu menari-nari, membentuk bayangan wajah mereka berdua, tersenyum dalam kedamaian. Xiao Jian memegang tangan Lin Mei, menatap matanya dengan penuh cinta. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka belum berakhir, tetapi mereka sekarang berjalan di jalan yang benar. "Ingatkah kau, ketika bunga *plum* bermekaran…?" bisik Xiao Jian, suaranya nyaris tak terdengar.
You Might Also Like: Cerpen Keren Kau Menulis Surat Padaku
0 Comments: