**Bayangan yang Menuntun ke Kematian** Kabut tipis merayapi Paviliun Anggrek, menyelimuti danau yang tenang seperti kain kafan. Di sanalah aku menemukannya, Li Wei, berdiri membelakangi cahaya lentera yang berayun. Jubahnya berkibar tertiup angin malam, menyembunyikan, atau mungkin mencoba menyembunyikan, kerapuhan di balik punggungnya yang tegak. "Wei," bisikku, suaraku serak dan nyaris tak terdengar. Butiran salju pertama mulai berjatuhan, menempel di rambutnya yang hitam legam. Dia berbalik perlahan. Matanya, yang dulu sehangat mentari pagi, kini sedingin es abadi. Tatapan itu tak lagi mengenaliku, tak lagi memancarkan cinta yang dulu pernah kubagikan bersamanya di bawah pohon persik yang mekar. "Jiang Yue," sapanya, nama yang diucapkannya seolah nama orang asing. "Apa yang membawamu kemari?" Aku mendekat, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. "Aku... aku harus bicara. Tentang masa lalu, tentang janji yang KAU langgar." Dia tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan dari tusukan pedang. "Janji? Apakah seorang pengkhianat pantas membicarakan janji?" Hatiku mencelos. Pengkhianat. Kata itu menghantamku seperti gelombang pasang, mengingatkanku pada pilihan yang harus kubuat, pilihan yang memaksaku mengkhianatinya demi menyelamatkan klannya. "Kau tahu kenapa aku melakukan itu," ujarku lirih. "Aku *harus* melindungi mereka." "Melindungi mereka dengan menusukku dari belakang?" Suaranya meninggi, nyaris berteriak. "Aku *percaya* padamu, Jiang Yue! Aku menyerahkan segalanya padamu!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku ingin meraihnya, menyentuhnya, meyakinkannya bahwa cintaku padanya tak pernah pudar. Tapi tanganku menggantung di udara, tak berani menyentuh sosok di depanku yang dipenuhi amarah dan kekecewaan. "Maafkan aku, Wei. Aku tahu, kata-kata tak akan pernah cukup untuk menebus rasa sakit yang kutorehkan di hatimu." Dia menatapku dengan pandangan yang membakar. "Terlambat, Jiang Yue. Semuanya sudah TERLAMBAT." Kemudian, dia tersenyum. Senyum yang mengerikan, senyum tanpa kehangatan, senyum yang terasa seperti pertanda kematian. "Kau ingin tahu apa yang paling menyakitkan?" Bisiknya, mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Bukan pengkhianatanmu, tapi kenyataan bahwa aku masih mencintaimu, bahkan setelah semua ini." Air mataku jatuh tak terkendali. Pengakuan itu lebih menyakitkan daripada pedang yang menembus jantung. Aku ingin berteriak, memohon ampun, memohon kesempatan kedua. Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku. Wei menjauh, meninggalkan aroma pahit obat herbal dan harapan yang hancur. Dia berbalik dan melangkah menuju kegelapan. Beberapa bulan kemudian, kudengar kabar bahwa Li Wei ditemukan tewas di Paviliun Anggrek. Penyebab kematiannya tidak jelas, tapi desas-desus beredar tentang kekuatan misterius yang menghantuinya. Ada yang bilang, bayangan masa lalu telah menuntunnya menuju kematian. Aku tahu, bayangan itu adalah aku. Takdir, dengan caranya yang halus namun kejam, telah menuntut keadilan. Aku tidak membunuhnya secara langsung, tapi pengkhianatanku telah membukakan jalan bagi takdir untuk menjalankan tugasnya. Cinta yang terlambat berbuah *dendam* yang abadi, dan hanya waktu yang tahu apakah keadilan sejati telah ditegakkan, ataukah justru kutukan abadi yang baru saja dimulai.
You Might Also Like: Agen Skincare Supplier Kosmetik Tangan
0 Comments: