Oke, inilah kisah dracin dengan judul 'Senyum yang Mati di Balik Tirai Putih': **Senyum yang Mati di Balik Tirai Putih** Istana megah itu berkilauan. Aula Emas memantulkan cahaya lilin, menciptakan ilusi abadi di wajah-wajah *tegang* para pejabat. Bisikan-bisikan pengkhianatan mengular di balik tirai sutra putih yang anggun, menyembunyikan mata yang mengawasi dan telinga yang mencuri dengar. Kekuasaan adalah aroma yang menyesakkan, dan cinta… adalah senjata yang paling mematikan. Di tengah pusaran intrik ini, Pangeran Mingyu, pewaris takhta dengan mata setajam elang dan senyum sehangat matahari, jatuh cinta pada Bai Lian, seorang *selir rendahan* yang kecantikannya seperti bunga plum di tengah musim dingin. Cinta mereka, terlarang dan berbahaya, tumbuh subur di taman rahasia istana, di bawah tatapan dingin patung naga dan desiran lembut air mancur. Mingyu menjanjikan dunia pada Lian, *janji* yang diucapkan dengan bibir yang sama yang ia gunakan untuk memerintah dan menipu. Lian, di sisi lain, membalas cintanya dengan *kepolosan yang memabukkan*, namun di balik mata indahnya tersembunyi kecerdasan yang tajam dan ambisi yang membara. "Aku akan menjadikanmu Permaisuri, Lian," bisik Mingyu suatu malam, tangannya menggenggam erat tangan Lian yang dingin. "Kita akan memerintah bersama." Lian hanya tersenyum, senyum yang tak bisa dibaca Mingyu. Apakah itu senyum cinta, ataukah senyum *kemenangan*? Namun, kekuasaan tidak mengenal kesetiaan. Mingyu, didorong oleh ambisi dan hasutan para penasihatnya, menikahi Putri Wei, aliansi politik yang akan mengamankan takhtanya. *Pengkhianatan!* Hati Lian hancur, cintanya tercabik-cabik. Ia merasa dikhianati, diperalat. Perlahan, Lian menghilang ke dalam bayang-bayang istana. Ia tidak lagi memancarkan kecantikan yang dulu membuat Mingyu tergila-gila. Senyumnya membeku, menjadi topeng yang dingin dan tak tertembus. Orang-orang mengira ia patah hati, lemah, dan terlupakan. *Mereka SALAH BESAR.* Bertahun-tahun kemudian, ketika Mingyu telah naik takhta dan memerintah dengan tangan besi, badai tiba-tiba menerjang istana. Putri Wei, yang selama ini dianggap jinak, melakukan *KUDETA!* Racun menghancurkan tubuh Mingyu, melumpuhkannya. Di saat-saat terakhirnya, ia melihat Lian berdiri di hadapannya, senyum dingin terukir di wajahnya. "Kau selalu meremehkanku, Mingyu," bisik Lian, suaranya sedingin es. "Kau pikir aku hanya seorang selir yang bisa diperalat. Sekarang, lihatlah siapa yang tertawa terakhir." Ternyata, selama bertahun-tahun, Lian telah merencanakan pembalasan dendamnya. Ia bersekongkol dengan Putri Wei, membantunya menggalang kekuatan dan menyingkirkan musuh-musuh Mingyu. Cinta yang dulu ia berikan pada Mingyu, kini berubah menjadi *senjata mematikan* yang menghancurkan istananya dari dalam. Mingyu menatap Lian dengan mata yang dipenuhi ketakutan dan penyesalan. *TERLAMBAT!* Lian berbalik, meninggalkan Mingyu yang meregang nyawa. Tatapannya tertuju pada takhta kosong. Ia tidak menginginkan takhta itu untuk dirinya sendiri. Ia hanya ingin melihat Mingyu hancur. Dan ia berhasil. *SUKSES BESAR!* Tirai putih itu berkibar tertiup angin malam, menyembunyikan senyum kemenangan Lian. Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dan tinta itu… masih merah membara.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Usaha Sampingan_27
0 Comments: