**Dendam Itu Memeluk Sebelum Membunuh, Karena Ia Pernah Menjadi Kasih** Hujan kota selalu membawa aroma kopi dan kenangan. Di balik jendela apartemen, Layla menatap layar ponselnya yang retak – retak seperti hatinya. Notifikasi terakhir dari ARYA, tiga tahun lalu, masih bersemayam di sana, membisu: "Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya." Sebuah janji yang terasa seperti kutukan. Arya, sang arsitek mimpi Layla. Dulu, mereka membangun istana cinta dari sisa *chat* larut malam, emoji berbentuk hati yang bertebaran di antara curahan isi hati, dan rencana-rencana masa depan yang kini terasa seperti debu. Cinta mereka tumbuh di sela-sela kesibukan kota, di antara *selfie* konyol dan janji untuk selalu ada. Sampai Arya menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Layla menggenggam cangkir kopinya erat-erat. Aroma pahitnya menusuk hidung, mengingatkannya pada kopi yang selalu mereka pesan di kafe favorit mereka. Di sanalah, di bawah *temaram* lampu, Arya pernah berjanji untuk melamarnya. Di sanalah, juga, Layla terakhir kali melihatnya tersenyum. Kehilangan itu seperti kabut, menyelimuti Layla dalam kesendirian yang menyesakkan. Misteri menghilangnya Arya terus menghantuinya. Ke mana ia pergi? Mengapa ia pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, seperti *looping* lagu yang tak pernah selesai. Tiga tahun berlalu. Layla, yang dulunya seorang penulis naskah film romantis, kini menulis cerita-cerita *thriller* yang gelap dan penuh intrik. Ia menuangkan rasa sakitnya, amarahnya, dan obsesinya untuk mengungkap kebenaran ke dalam setiap karakter dan plotnya. Suatu malam, sebuah email anonim tiba di kotak masuknya. Subjeknya hanya satu kata: "Rahasia." Di dalamnya, sebuah *link* menuju sebuah video. Jantung Layla berdebar kencang saat ia mengklik tautan itu. Di layar, Arya. Tapi bukan Arya yang ia kenal. Pria itu terlihat kurus, pucat, dan ketakutan. Ia berbicara tentang sebuah organisasi rahasia, tentang ancaman, tentang pengkhianatan. Ia juga berbicara tentang Layla. Tentang bagaimana ia terpaksa meninggalkannya untuk melindunginya. Air mata Layla mengalir deras. Jadi, ini alasannya. *Ini Alasannya*. Selama ini, ia menyalahkan dirinya sendiri, mengira Arya bosan padanya, mencampakkannya. Ternyata, Arya mencintainya begitu dalam hingga ia rela mengorbankan segalanya. **Dendam** itu muncul perlahan, namun pasti. Dendam bukan karena Arya meninggalkannya, tapi karena ia harus menderita sendirian. Dendam karena cinta mereka dirampas dengan kejam. Layla menghapus air matanya. Ia punya rencana. Beberapa bulan kemudian, film terbaru Layla tayang perdana. Judulnya? "Sampai Jumpa di Kehidupan Selanjutnya." Film itu menceritakan kisah cinta tragis antara seorang arsitek dan seorang penulis. Namun, di balik kisah cinta itu, terselip sebuah pesan tersembunyi, sebuah kode yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang menghancurkan hidup Arya. Di akhir film, karakter utama wanita, yang diperankan oleh Layla sendiri, tersenyum dingin ke arah kamera. Kemudian, ia mengetik sebuah pesan terakhir di ponselnya. Pesan itu dikirim ke nomor yang tak terdaftar. Dendam itu lembut. Tak ada teriakan, tak ada kekerasan. Hanya sebuah pesan, sebuah senyum, dan sebuah keputusan. **Layla mematikan ponselnya.** Layla berdiri di balkon apartemennya, menatap hujan kota yang semakin deras. Aroma kopi sudah hilang, digantikan oleh aroma *ozon* dan kesedihan yang mendalam. Ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Ia telah membalaskan dendam Arya. Tapi, ia juga kehilangan segalanya. Dan yang tersisa hanyalah... .... keheningan yang abadi.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Lokal

0 Comments: