Hujan menggigil di luar jendela, persis seperti gigilnya hati Mei ketika mengingat malam itu. Malam di mana janji abadi terucap, di bawah cahaya **LENTERA** yang kini redup di meja kerjanya. Malam di mana Li Wei, cintanya, dunianya, berjanji akan selalu ada. Namun, seperti bayangan yang patah tertimpa badai, janji itu hancur berkeping-keping. Pengkhianatan Li Wei mengalir deras seperti banjir bandang, merenggut semua yang berharga dari Mei. Ia melihat sendiri dengan mata kepala sendiri, Li Wei dan wanita lain – senyum yang dulu hanya untuknya kini terbagi, sentuhan yang dulu hanya miliknya kini ternoda. "Kau mati dengan namaku di bibir, dan hidupku berhenti di sana," bisiknya lirih, mantra yang berulang-ulang diucapkannya sejak malam itu. Mei mengusap foto Li Wei yang terbingkai di atas meja. Senyum itu, senyum yang dulu membuatnya rela memberikan seluruh hatinya, kini hanya memicu rasa mual yang amat sangat. Hatinya bagai lahan tandus yang ditinggalkan musim kemarau panjang. Bertahun-tahun berlalu. Mei membangun dirinya kembali. Ia belajar tersenyum, tertawa, bahkan mencintai (pura-pura). Namun, di kedalaman hatinya, bara dendam terus membara. Ia menggunakan kepintarannya, kecantikannya, dan koneksinya untuk mendaki tangga kekuasaan, satu anak tangga demi satu anak tangga. Setiap kemenangan kecil adalah bahan bakar untuk apinya. Li Wei, sebaliknya, tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan. Kariernya meredup, keuangannya menipis, dan cintanya kepada Mei, yang dulunya ia anggap remeh, kini menjadi obsesi yang menghantuinya setiap malam. Ia mencari Mei, mengemis maaf, namun Mei selalu menghindar, bermain-main dengan harapannya, sebelum akhirnya menghancurkannya dengan senyuman dingin. Suatu malam, di sebuah gala amal yang dipenuhi orang-orang penting, Mei akhirnya berhadapan langsung dengan Li Wei. Li Wei, kurus dan pucat, berlutut di hadapannya, memohon. Mei menatapnya tanpa ekspresi. "Kau tahu, Li Wei," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk pesta. "Semua ini... *semua ini adalah rencanaku*." Li Wei menatapnya dengan mata terbelalak. Mei tersenyum tipis. "Kau pikir aku hanya duduk diam dan meratapi nasib? Oh, Li Wei, kau sangat meremehkanku." Ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Li Wei, "Kau memang mati dengan namaku di bibir... tapi *hidupmu sebenarnya sudah berhenti JAUH sebelum malam itu*."
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Dipatuk Kadal Pasir

0 Comments: