Baiklah, inilah kisah Dracin pendek yang berjudul 'Aku Menatap Langit Merah, Tapi Yang Kulihat Hanya Darah dan Doa': *** Langit senja di atas Danau Bulan Sabit berlumuran warna merah. Merah yang bagaikan darah yang ditumpahkan di atas kanvas sutra. Aku, Lin Yue, berdiri di tepi danau, merasakan angin menusuk tulang, namun tatapanku terpaku pada langit. Entah mengapa, warna itu... *menghantuiku*. Aku selalu merasa asing di dunia ini. Dunia di mana ponsel berdering, mobil berlalu lalang, dan orang-orang berlomba mengejar mimpi yang tak kumengerti. Aku lebih nyaman dengan lukisan-lukisan kuno yang berdebu, melodi seruling bambu yang sayu, dan cerita-cerita tentang para dewa dan kaisar. Kemudian, ingatan itu datang, perlahan tapi pasti, bagaikan tetesan air yang melubangi batu. Fragmen-fragmen masa lalu yang bukan milik Lin Yue, melainkan milik **XIAO MEI**, seorang selir kesayangan kaisar di Dinasti Yuan. Xiao Mei yang ahli dalam merangkai bunga, Xiao Mei yang suara nyanyiannya membius hati, Xiao Mei yang... dikhianati. Mimpi-mimpi buruk mulai menyiksa. Mimpi tentang pedang berlumuran darah, mata penuh amarah, dan bisikan yang menusuk kalbu, *"Kau akan membayar, Xiao Mei!"* Aku mencari tahu. Aku mengunjungi perpustakaan kuno, membaca gulungan-gulungan sejarah yang rapuh. Akhirnya, aku menemukannya. Catatan tentang kematian Xiao Mei yang misterius, dan nama yang *selalu* muncul di sampingnya: Jenderal Li Wei, panglima perang yang sangat dihormati kaisar. Li Wei... dia adalah kekasihku, pelindungku, kepercayaanku. Lalu, mengapa... Satu malam, aku bermimpi jelas. Aku melihat Jenderal Li Wei menusukku dengan pedangnya, matanya dingin dan penuh kebencian. Dia berbisik, "Kaisar menginginkanku menikahi putri seorang adipati. Kau menghalangi jalanku." ***KEBENARAN*** menghantamku bagaikan badai. Li Wei mengkhianatiku demi kekuasaan dan ambisi! Di kehidupanku sekarang, takdir mempertemukanku kembali dengannya. Dia adalah seorang pengusaha sukses, Li Wei yang berkuasa, yang karismatik, yang... sama sekali tidak mengenaliku. Dia mendekatiku, terpesona oleh keahlianku dalam melukis lanskap kuno. Dia menginginkanku melukis potretnya. Sebuah kesempatan sempurna. Aku menerima permintaannya. Aku melukisnya dengan detail yang teliti, dengan sapuan kuas yang halus, dengan *cinta* (dulu) dan **KEBENCIAN** (sekarang). Di lukisan itu, di balik senyumnya yang menawan, aku menyembunyikan simbol. Simbol dari bunga plum yang layu, lambang Xiao Mei. Simbol dari pedang patah, lambang pengkhianatan. Simbol dari DANAU BULAN SABIT, tempat darahku tumpah. Aku menyerahkan lukisan itu. Li Wei tersenyum puas. Dia tidak tahu bahwa lukisan itu adalah bom waktu. Lukisan itu akan membangkitkan ingatannya, perlahan tapi pasti. Lukisan itu akan menghantuinya. Keputusan kecil itu, menerima permintaannya, melukis potretnya, adalah balas dendamku. Karena setiap kali dia menatap lukisan itu, dia akan melihat wajah Xiao Mei yang tersenyum sedih, wajah yang akan menghantuinya selamanya. Dia akan merasakan beban dosanya, seberat seribu gunung. Dan itu, bagiku, sudah cukup. Aku menatap langit merah lagi. Kali ini, aku tidak melihat darah. Aku melihat... janji. Di suatu tempat, di antara bintang-bintang, di alam lain, aku tahu bahwa suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Dan saat itu tiba... ***...aku akan membuatnya mengingat semuanya.***
You Might Also Like: Experience Heartbeat Of Boston Historic
0 Comments: