**Ia Mengarsipkan Aku, Tapi Tak Pernah Menghapus** Hujan rintik di Kota Shanghai seolah menirukan air mata yang *tertahan* di pelupuk mataku. Di balik jendela apartemen mewah ini, siluet gedung-gedung pencakar langit tampak buram. Sama buramnya dengan kenangan tentang dirinya. Li Wei, pria yang pernah menjadi matahari dalam hidupku, kini hanyalah bayangan kelabu yang menghantui setiap sudut ruangan ini. Dulu, senyumnya adalah candu. Senyum yang menjanjikan keabadian, sebuah janji palsu yang kini terasa seperti **BELATI** yang menghujam jantungku. Pelukannya, dulu tempatku bersembunyi dari badai dunia, kini terasa seperti racun yang perlahan melumpuhkanku. Ia mengarsipkan aku dalam kehidupannya, menempatkanku di sudut tergelap dari hatinya, tapi ia *tidak pernah menghapusnya*. Mengapa? Aku, Mei Hua, pewaris tunggal bisnis keluarga yang besar, terbiasa menyembunyikan emosi di balik topeng elegan. Aku belajar tersenyum, bahkan ketika hatiku menjerit kesakitan. Aku belajar berbicara dengan nada lembut, bahkan ketika amarah membakar di dalam diriku. Pengkhianatan Li Wei adalah pukulan telak, namun aku menolak untuk runtuh. Aku akan bangkit, seperti phoenix dari abu. Waktu berlalu. Aku sibuk membangun kembali diriku, bisnisku, dan *kehormatanku*. Li Wei, sementara itu, semakin tenggelam dalam dunia bisnis yang penuh intrik dan tipu daya. Ia menikah dengan wanita lain, seorang wanita kaya raya yang bisa membantunya mencapai puncak kekuasaan. Namun, kebahagiaan yang dicarinya ternyata hanya fatamorgana. Suatu malam, aku menerima undangan untuk makan malam amal. Di sanalah aku bertemu dengannya lagi. Li Wei tampak terkejut melihatku, matanya memancarkan campuran antara kerinduan dan penyesalan. Ia mendekatiku, berusaha meraih tanganku. Aku menepisnya dengan *anggun*, tapi *dingin*. "Mei Hua… aku…" "Jangan katakan apa pun, Li Wei," aku memotong ucapannya dengan suara yang *setenang danau*. "Kau sudah memilih jalanmu. Dan aku, aku sudah memilih *jalan balas dendamku*." Balas dendamku bukanlah darah atau air mata. Itu adalah penyesalan. Aku memastikan bisnisnya hancur perlahan, tanpa ampun, menggunakan koneksiku, menggunakan kekayaanku. Aku membuatnya kehilangan segalanya: kekuasaan, uang, dan yang paling penting, harga dirinya. Suatu hari, aku melihatnya di jalanan, tampak lusuh dan putus asa. Ia menatapku dengan tatapan yang penuh dengan *penyesalan abadi*. Aku tersenyum tipis, lalu berlalu. Kemenangan ini terasa manis, tapi pahit. Aku telah membalas dendam, tapi hatiku tetap kosong. Di tengah malam yang sunyi, aku merenung. Cinta dan dendam… keduanya berasal dari tempat yang sama: *Rasa sakit yang teramat dalam*. Lalu, apakah yang lebih kuat? Cinta yang dibalas dengan pengkhianatan, atau dendam yang membakar jiwa? Aku masih belum tahu…
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama
0 Comments: