**Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun** Embun pagi menggantung di kelopak *Magnolia*, sehalus sentuhan bibirnya dulu, ...

Dracin Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Dracin Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Dracin Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Dracin Populer: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

**Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun** Embun pagi menggantung di kelopak *Magnolia*, sehalus sentuhan bibirnya dulu, namun dinginnya menusuk tulang seperti tatapannya kini. Ling Yunxi, dengan gaun putih selembut mimpi, berdiri di tepi Danau Bulan Sabit, menanti seseorang yang dulu adalah dunianya. Dulu, tatapan Li Weiyang adalah mentari yang menghangatkan jiwanya, membakar keraguan dan ketakutan. Tatapan yang sama kini bagaikan es batu yang menggerogoti hatinya, lapisan demi lapisan, hingga tersisa kehampaan yang memekakkan. "Weiyang," bisiknya, suaranya bergetar seperti daun yang diterpa angin kencang. "Mengapa?" Li Weiyang, berdiri tegak di depannya, bayangan ketegasan terpahat di wajah tampannya. Dulu, wajah itu adalah lukisan indah yang tak pernah bosan dipandangnya. Kini, lukisan itu retak, terbelah oleh kebohongan dan pengkhianatan. "Yunxi," jawabnya, suaranya sedalam jurang. "Kau tak akan mengerti." Itulah kebohongan pertama. Sebuah janji yang dilanggar. Dulu, mereka berjanji untuk saling memahami, untuk berbagi segalanya, bahkan rahasia terkelam sekalipun. Sekarang, rahasia itu menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka, dibangun dari batu-bata dusta dan ambisi. Yunxi telah hidup dalam kebahagiaan semu, dalam gelembung kaca yang diciptakan Weiyang. Sebuah istana megah yang dibangun di atas pasir. Dia telah dibutakan oleh cinta, tuli oleh bisikan curiga. Namun, perlahan, kebenaran mulai merayap masuk, seperti racun yang menyebar dalam darah. Kebenaran itu pahit, menusuk, **MENGERIKAN!** Weiyang, cintanya, belahan jiwanya, ternyata terlibat dalam konspirasi yang menewaskan keluarganya. Dia telah memanfaatkan cintanya untuk mendapatkan kekuasaan, untuk mendaki tangga kesuksesan dengan menginjak-injak kenangan dan kebahagiaannya. Yunxi menghabiskan malam-malamnya mencari bukti, menggali kebenaran yang tersembunyi di balik senyum manis Weiyang. Setiap lembar surat, setiap saksi bisu, meremukkan hatinya hingga berkeping-keping. Semakin dia mencari, semakin dia memahami bahwa cinta Weiyang padanya adalah racun yang mematikan. "Aku mengerti," ucapnya, suaranya tenang, nyaris tanpa emosi. "Aku mengerti bahwa cintamu adalah topeng. Bahwa setiap sentuhanmu adalah perhitungan. Bahwa setiap kata-katamu adalah kebohongan." Weiyang terdiam, sorot matanya berkelebat, antara penyesalan dan kekhawatiran. Dia tahu, Yunxi telah mengetahui segalanya. Dia tahu bahwa istana pasirnya akan segera runtuh. "Aku mencintaimu, Yunxi," bisiknya, suaranya parau. "Dulu," jawab Yunxi. "Dulu kau mencintaiku. Tapi cinta itu kini telah menjadi abu." Dan kemudian, Yunxi tersenyum. Sebuah senyum yang tenang, anggun, namun mematikan. Senyum seorang dewi yang akan menghukum pengkhianat. Senyum yang menyimpan perpisahan abadi. Balas dendamnya tidak akan berdarah. Tidak akan ada teriakan. Tidak akan ada air mata. Balas dendamnya adalah menghancurkan Weiyang dari dalam, merampas semua yang dia perjuangkan, membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan akan runtuh menjadi debu. Dia akan menggunakan cinta Weiyang padanya sebagai senjata, memanfaatkannya untuk menghancurkan musuh-musuhnya, dan pada akhirnya, menghancurkan dirinya sendiri. Weiyang akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cintanya yang beracun menghancurkan semua yang dia cintai. Yunxi berbalik, melangkah menjauh dari Weiyang, meninggalkan dia berdiri terpaku di tepi Danau Bulan Sabit. "Selamat tinggal, Weiyang," bisiknya, nyaris tak terdengar. *Akankah embun pagi berikutnya membawa kedamaian, atau hanya kenangan pahit yang terus menghantui?*
You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

0 Comments: