Judul: Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu Di kedai teh Shui Yun , aroma melati mengepul, menguar bersama...

Bikin Penasaran: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu Bikin Penasaran: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Bikin Penasaran: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Bikin Penasaran: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu


Judul: Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Di kedai teh Shui Yun, aroma melati mengepul, menguar bersama kabut pagi Kota Terlarang. Tanganku gemetar memegang San Cai peninggalan kakek, teh panas di dalamnya menghangatkan jemariku yang membeku. Di hadapanku, tergeletak koran hari ini.

Wajah itu... wajah di halaman depan...

"Presiden Perusahaan Teknologi Qing, Li Wei?" gumamku, suara nyaris tak terdengar.

Jantungku berdebar kencang. Bukan karena kekaguman pada seorang konglomerat, tapi karena rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak dari dasar jiwaku. Rasa sakit yang terlalu familiar, rasa sakit seorang kekasih yang dikhianati.

Aku, Lin Mei, seorang guru kaligrafi sederhana, tiba-tiba dihantui bayangan seorang putri dari Dinasti Ming, Putri Wanrou. Putri yang terbunuh karena pengkhianatan kekasihnya, Jenderal Li.

Bayangan itu datang dalam mimpi. Mimpi tentang taman-taman indah yang dinodai darah, tentang janji setia yang berubah menjadi belati. Mimpi tentang dia, Jenderal Li, yang berdiri angkuh di tengah kobaran api istana.

Awalnya, aku menganggapnya hanya mimpi buruk. Tapi semakin lama, semakin jelas. Fragmen-fragmen ingatan itu menyakitkan, namun juga... menggoda.

Setiap kali menatap foto Li Wei di koran, hatiku berbisik: "Itu dia... itu dia pengkhianat itu!"

Rasa benci bercampur rindu. Aneh, menyakitkan. Aku merindukannya, Li, Jenderal Li, kekasihku di kehidupan lalu. Tapi aku juga membencinya, Li Wei, pria yang kulihat tersenyum angkuh di halaman depan koran.

Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu. Bukan balas dendam yang kejam, bukan. Tapi sesuatu yang lebih... halus.

Aku mencari tahu semua tentang Li Wei. Rutinitasnya, kelemahannya, ambisinya. Aku tahu, dia sedang membangun sebuah kompleks perumahan mewah di lahan bekas makam kuno. Lahan yang menurut legenda, terkutuk.

Aku mengirimkan sebuah surat kaligrafi. Bukan surat cinta. Tapi sebuah surat yang berisi... peringatan. Surat itu berisi kata-kata bijak dari seorang biksu tua, tentang pentingnya menghormati leluhur dan menjaga keseimbangan alam.

Aku tahu, Li Wei tidak percaya takhayul. Tapi aku juga tahu, dia sangat ambisius. Dia tidak akan mengambil risiko apa pun yang bisa menghambat kesuksesannya.

Beberapa hari kemudian, aku membaca berita: Proyek Perumahan Mewah Ditunda Karena Masalah Perizinan. Foto Li Wei terpampang di koran, wajahnya terlihat tegang.

Aku tersenyum tipis. Balas dendamku bukan dengan pedang atau racun. Tapi dengan pena. Aku mengubah takdirnya, bukan dengan membunuhnya, tapi dengan membuatnya menunda ambisinya.

Aku kembali menyesap teh melatiku. Pahitnya teh terasa lebih ringan sekarang. Rasa rindu masih ada, tapi rasa sakitnya mulai mereda.

Di balik jendela kedai teh, kabut pagi mulai menghilang. Matahari mulai bersinar, menyinari Kota Terlarang.

Aku menatap sekali lagi foto Li Wei di koran. "Sampai jumpa lagi, Jenderal, " bisikku.

Dan tiba-tiba, aku merasakan hembusan angin dingin, seolah berbisik di telingaku: "Penantian ini… belum berakhir…."

You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

0 Comments: